Palu, 50detik.com– Penyelamatan buaya muara Sungai Palu yang terlilit ban sepeda Motor pada lehernya, telah mulai dilakukan Kamis (6/02/2020), namun upaya yang dilakukan Balai Konserpasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang dibantu personil dari Polairud Polda Sulteng, masih belum membuahkan hasil.

Upaya yang dilakukan itu, merupakan program yang telah direncanakan BKSDA sejak lama, yang sebelumnya telah mendatangkan Panji sang petualang, yang juga tak membuahkan hasil.

Proses penyelamatan buaya berkalung ban tersebut dilakukan oleh 5 personil gabungan dari Polairud dan BKSDA, dengan menaiki perahu karet milik Ditpolairud Polda Sulteng dan menggunakan beberapa alat lainya, seperti Harpun atau tombak yang sering digunakan untuk menangkap hewan laut berukuran besar.

Tidak hanya itu, proses penyelamatan berlangsung dramatis dan mendapat banyak kendala yaitu seperti ombak yang besar dan arus muara yang cukup deras serta buaya yang menjadi target, tak menetap terkadang berpindah tempat dan timbul tenggelam ke dalam sungai.

Menurut Kepala Seksi Wilayah Kelas I konservasi BKSDA Sulteng, Haruna, yang menjadi kendala saat ini adalah posisi sang buaya yang selalu berpindah-pindah

Ia menambahkan meski belum membuahkan hasil, namun kita tetap optimis dengan teknik penyelamatan ini yang dilakukan saat ini.

Sementara itu, ia juga menegaskan, tidak ada akan menggunakan sistem tembak bius dalam proses penyelamatan buaya tersebut.

Kenapa tembak bius tidak dilakukan karena resikonya terlalu besar dan juga bisa membahayakan sang buaya.

Pihak BKSDA secara terbuka menerima bantuan dari berbagai pihak. untuk terlibat dalam proses penyelamatan sendiri harus akan tetapi harus mengikuti seluruh prosedur yang ada.

“Kami terbuka untuk siapa yang saja yang ingin membantu, tapi harus sesuai dengan prosedur yang ada. Tetapi saya tegaskan, bahwa tim kami masih mampu untuk menangani masalah ini,” tegasnya.

Para warga Kota Palu juga antusias melihat langsung penyelamatan sang buaya berkalung ban tersebut.Terlihat dilokasi ratusan warga Palu yang berada di bantaran sungai Palu

Penulis: Sugi Efendi