Laporan: Marwan P Angku

BANYAK orang tidak yakin kekuatan gempa kemarin itu hanya 7,4. Dimana2 orang bercerita, “ah bukan cuma 7 koma, saya kira lebih dari itu”. Geli-geli sedap juga mendengarnya, jika menyimaknya secara lurus-lurus saja. Dasarnya apa? Andaikan alat pencatat skala kekuatan gempa (seismometer) menaruh angka 8,9, pasti “dibantah” juga menjadi 10 koma, melampaui gempa di Chile pada 22 Mei 1960 dengan kekuatan 9,5 SR. Itulah gempa terkuat sepanjang sejarah yang tercatat.

Namun saya mencoba menangkap nuansa batin dari pendapat-pendapat itu. Pertama, orang ingin mendeskripsikan betapa hebatnya goncangan di jumat petang 28 september, itu. Sehingga berapapun angka seismometer, bisa dikalahkan oleh penggambaran yang kita rasakan. Pendek kata kitalah yang lebih merasa daripada alat penentu skala yang penemuannya oleh Charles F.Richter, ilmuan asal Institut Teknologi California (1935), itu.

Kedua, orang mengacu pada informasi bahwa alat pencatat kita (BMG) mencatat berbeda dengan alat pencatat Amerika atau Jepang, yang konon mencatat kekuata gempa Palu mencapai 9 koma. Ini pernah terjadi ketika peristiwa gempa dan tsunami Aceh, akhir Desember 2004 silam, antara kita yang 8,9 dengan alat luar negeri yang 9,1.

Tak jelas pula info di masyarakat itu apakah selisih angka itu karena perbedaan skala pencatat: Skala Richter (SR) atau Skala Mercalli (SM), karena banyak yamg belum paham. Yang jelas jamak di masyarakat kita SR. Agaknya penting penjelasan ilmiah oleh pemegang otoritas soal ini agar tak membingungkan masyarakat. Terlebih angka yang dipublis beberapa saat setelah guncangan mematikan itu, berubah-ubah. Awalnya 7,7 turun menjadi 7,4. Awalnya berpotensi tsunami, tak lama kemudian dicabut warning itu, dan hitungan menit kemudian ternyata tsunami.

Ketiga, ini yang rawan jika tak ada penjelasan ilmiah: muncul opini yang menyeret angka 7,7 dan 7,4 atau 9 koma itu ke ranah politis. Bahwa angka “sengaja” diturunkan untuk menghindari status bancana nasional? Pun demikian pula terkait dengan angka korban jiwa. Wallahu ‘alam….

Maka itu penting dijelaskan, juga sebagai bagian dari pembelajaran masyarakat. Sebab, bencana paling besar berikutnya buat kita bukan lagi gempa, tsunami dan liquefaksi, melainkan kemalasan kita untuk belajar darinya.***mpa

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here