Naturalisasi di Pilkada Sulteng? (bag 1)

Palu, 50detik.com– Shin Tae Yong Effect benar benar terjadi di dunia sepakbola Indonesia. Bagaimana tidak, subuh tadi Indonesia tumbangkan Korea Selatan Raja Sepakbola Asia lewat adu penalti.

Ini sejarah baru Indonesia tembus Semi Final Piala Asia U -23 dan duniapun gempar. Kata kunci sukses STY adalah salah satunya lewat Naturalisasi pemain abroad Eropa keturunan Indonesia. Dunia sepakbola Indonesia berubah menjadi sepakbola yang indah dan menghibur.

Bulan lalu jelang Pemilu, beberapa media sosial di Sulteng mensinyalir adanya pemain naturalisasi dalam rekruitmen di BAWASLU dan KPU di kabupaten kota.

Mereka gunakan istilah Naturalisasi untuk calon anggota komisioner yang berasal dari kabupaten lain. Misal dari calon asal kabupaten Tojo Una Una ke Sigi juga dari kota Palu ke kabupaten Donggala.

Apakah ini tidak maladministrasi? Jawabannya adalah tidak. Mereka legal ber ktp dan lewati prosedur seluruh test serta mereka tepilih.

Bahkan dalam praktek seorang mantan komisioner di Bawaslu Provinsi Sulteng terpilih menjadi anggota komisioner di Provinsi Papua Barat. Persoalan “naturalisasi” di rekruitmen Bawaslu dan KPU ini sudah menjadi praktek legal utamanya untuk solusi keterbatasan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan menjadi penyelenggara Pemilu dan Pilkada.

Dalam pemahaman istilah ” naturalsasi” tersebut dunia Sepakbola Palu sudah jauh lebih dahulu mempraktekkannya dan sukses.

Adalah almarhum Aziz Lamadjido mantan bupati Donggala dan mantan Gubernur Sulawesi Tengah yang juga Ketua PERSIPAL bersama sahabat karibnya almarhum Andi Raga Pettalolo Ketua PERSIDO Donggala mendatangkan pemain pemain hebat dari luar Sulawesi Tengah.

Sepakbola Indonesia kaget ketika Persipal Palu menembus 4 ( empat) besar Turnamen Perserikatan di era tahun 1980 an.

Nama nama seperti Erwin Sumampouw, Hendrik Montolalu, Yacobus Mobilala, Yacobus Makanuai, Stepanus Sirey, Ramang Paduay dan masih banyak lainnya menguasai sepakbola di pentas nasional.

Saya adalah salah satu saksi catatan sejarah penampilan mereka baik di Stadion Menteng Jakarta maupun di Istora Senayan.

Sebagai anak Daerah yang bermukim di Jakarta dan menjadi anak gawang klub Indonesia Muda Yunior kala itu, ini adalah sebuah kebanggaan.

Nama Palu harum menjadi buah bibir pencinta sepakbola. Bentuk adanya “Naturalisasi” ala Aziz Lamadjido di dunia sepakbola mampu mengatasi keterbatasan sumber daya pemain lokal saat itu yang pada akhirnya menjadi pemicu bangkitnya Sepakbola di Sulawesi Tengah dan melahirkan talenta talenta pesepakbola Nasional yang pada gilirannya menghiasi klub klub Liga Galatama hingga Liga I saat ini.

Almarhum Aziz Lamadjido adalah salah satu pioner. Masyarakat tentu masih ingat Tim Klub Benfica Portugal dan PSV Einhovend bermain di lapangan sepakbola Palu Putra melawan kesebelasan Persipal dan Persido yang kini menjadi Kawasan Pertokoan Palu Plaza. Al Fatihah kita persembahkan untuk beliau.

Bagaimana dalam proses Pilkada itu sendiri? Apakah “naturalisasi? seperti ini dimungkinkan? Apa masalah dan apa tantangan?

Palu, 26 April 2024
H.Sofyan Farid Lembah
Pekerja Sosial

Pos terkait