Ditulis: wartawan Radar Banjarmasin ZALYAN SHODIQIN ABDI, Pulau Laut

BANJARMASIN. 50detik.com– PERNAH dengar kesaktian orang Mandar? Ternyata kesaktian itu ada yang berasal dari ilmu hitam. Tapi ada juga ilmu mereka yang berasal dari syair Mandar soal ajaran tasawuf. Radar Banjarmasin ke pesisir Pulau Laut Tanjung Selayar. Menelusuri sudut-sudut dan pulau di sana, menelusuri kisah kesaktian orang Mandar zaman dulu.

Pulau Sugi, sekitar empat kilometer dari pusat kota Pulau Laut Tanjung Selayar. Pulau itu mesti diseberangi dengan titian sepanjang sekitar seratus meter. Konon di pulau kecil itu, dulu tempat kumpulnya orang-orang sakti.

Zaman berganti, Pulau Sugi tetap ditakuti sebagian orang. Beberapa kenalan penulis dari aparat yang tugas di Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar mengaku agak khawatir masuk pulau karena cerita mistisnya yang melegenda.  Di Pulau Sugi, penulis bertemu dengan Pua Janggo, tokoh paling tua di sana. Usianya sudah lebih 80 tahun, tapi masih sehat. Suaranya lantang bercerita.

“Kalau itu dulu sekali. Mungkin tahun 40 an. Sedikit juga orang yang bisa doti,” ujarnya bercerita didampingi istrinya, Najma yang berusia 63 tahun. Pua Janggo bercerita, doti adalah ilmu hitam. Di atasnya ada ilmu Padang Pakkar. Doti ilmu untuk membunuh lawan, biasanya berbentuk seperti telur bercahaya menyerang badan target. Dampaknya korban yang terkena, ada yang langsung koit, sakit, atau badannya hancur perlahan seperti kena diabetes kronis.

“Tapi kalau padang pakkar itu ngeri. Tidak berbentuk, hanya embusan angin orang bisa mati,” ujarnya.  Selain ilmu santet, zaman dulu sebutnya yang lebih terkenal dari orang Mandar adalah ilmu kanuragan dan peletnya. Di Gosong Panjang, sekitar 20 kilometer dari Pulau Sugi kata dia ada tiga tokoh terkenal: Kamatuna, Calolo dan Pua Salehani.

“Pua Salehani itu jika ada orang pamer kekuatan badik di hadapannya, langsung dia ambil dan kasih bengkok itu besinya.” Sementara Kamatuna dan Calolo dikenal keberanian mereka. Jika dua orang ini marah, hampir dipastikan tidak ada yang berani melawan. Baru suara bentakan mereka mampu membuat ciut nyali lawan. “Semua ilmu itu dari Mandar,” kata Pua Janggo yang bekerja jadi nelayan selama lebih separuh hidupnya itu.

Mengapa orang Mandar dulu jago-jago? Kata Janggo, dulu sekali masalah kentut pun bisa berujung adu badik. “Dulu begitu. Kentut diejek, malu ajak berkelahi,” kenangnya tergelak. Lantas ilmu apa yang dimiliki Pua Janggo sebagai tokoh paling tua di sana? Ilmu melaut. “Saya tidak bisa ajarin ilmu kebal atau jago. Tapi kalau mau cepat jadi juragan kapal saya bisa ajarin,” ujarnya yang pernah membawa berton-ton kopra penduduk di sana era tahun 80 an.

Dengan murah hati dia memberi tahu salah satu ilmu andalan Mandar saat melaut. Ilmu itu sudah dia buktikan keampuhannya selama puluhan tahun. Jika berlayar, bingung merapat ke darat takut kena karang atau batu, caranya dengan memegang biji kemaluan, biji mana yang posisinya di atas maka ke sanalah berlayar.

“Kalau yang tinggi biji yang kanan, maka ke kanan kamu karena pasti itu airnya dalam. Begitu juga kalau di hutan, sesat pegang saja, periksa mana yang paling tinggi,” ujarnya mengajarkan. Saya tidak kuasa menahan tawa mendengar metodenya itu. Isri Pua Janggo juga tertawa terbahak memperlihatkan giginya yang ompong sembari menggoyang ayunan cucunya.

“Memang begitu. Tidak ada jampi-jampi melaut. Hampir semua membaca tanda-tanda di diri dan di alam,” kata Pua Janggo. Mukhlis salah satu tokoh nelayan di Pulau Sugi membenarkan. “Saya juga pakai itu. Sudah puluhan tahun,” akunya.

Apalagi ilmu Pua Janggo? Istrinya membocorkan rahasia. Ternyata pria tua dengan rambut dan janggut panjang putih itu jago ilmu perempuan. “Dulu saya tidak mau sama dia. Habis itu dia belajar ilmu. Saya tiba-tiba mau aja,” ujarnya tidak dibantah Pua Janggo.

Ilmu pekasih orang Mandar kata Pua Janggo memang hebat. Jika ilmu itu dikirim ke wanita, maka korban akan gelisah jika tidak bertemu si lelaki. “Itu cuma syair-syair saja bacannya,” kata Janggo.

Tapi yang membuat Pulau Sugi terkenal zaman dulu kata Janggo adalah kehebatan ilmu racun. Meski dia mengaku tidak terlalu tahu soal itu, tapi Pulau Sugi disegani karena ilmu racunnya. “Pulau Kerayaan itu jago soal racun, tapi merek segan dengan Pulau Sugi,” akunya.

“Yang saya tahu, dan masih ingat, dulu itu siapa saja yang minum air di Pulau Sugi sulit pulang karena akan ingat terus dengan pulau ini,” tambah pria yang lahir di pulau kecil itu.

Pulau Sugi memang kecil. Mukhlis si nelayan mengatakan, keliling pulau cukup setengah jam berjalan. Mayoritas di sana kerja melaut. Para pendatang juga sering ke sana memancing ikan kakap, teknik umpan hidup atau casting.

Tidak jauh dari Pulau Sugi, penulis geser ke Tanjung Tengah. Kata beberapa warga, ada tokoh tua di sana yang dikenal sakti. Pua Kuma namanya. Nama aslinya Abdul Latif. Sayang, Pua Kuma sudah tidak mampu mendengar dan melihat dengan baik. Pertanyaan saya, disampaikan anaknya Fatmawati dengan cara berbicara keras persis di depan telinga bapaknya.

Tidak banyak terungkap dari Pua Kuma. Tapi kata anaknya, dulu ayahnya itu berani melawan penjajah hanya dengan bambu runcing. Pua Kuma kata keluarganya diperkirakan lahir pada 1932.

Cerita lain disampaikan istri Pua Kuma, Badariah yang lahir pada bulan Juni 1942. Kisahnya, ayahnya dulu saat zaman pemberontakan pernah mau dibunuh gerombolan, tapi si pembunuh malah ketakutan karena melihat orang banyak. Padahal kata Badariah, bapaknya cuma sendiri waktu itu.

Tokoh di Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar, Syaripudin biasa dipanggil Pudding bertutur banyak soal kesaktian orang-orang Mandar zaman dulu. Syaripuddin punya ayah bernama Pua Sado, sangat terkenal di Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar. Terkenal karena ilmu agamanya, dan beberapa kelebihannya.

“Sebenarnya, ada dua ilmu orang Mandar. Ilmu putih sama ilmu hitam,” ujarnya. Doti dan Padang Pakkar atau Parang Maya adalah ilmu hitam. Kata Pudding, orang yang punya ilmu itu dulu ada beberapa faktor. Ingin kaya, tambah ilmu kesaktian, atau supaya disegani orang.

Mendapatkan ilmu hitam itu cukup sulit kata Pudding. Syarat-syaratnya berat. Misalnya mencari ayam yang semua bulunya hitam, atau ayam yang paling jago diadu. Setelah itu duduk bertapa di atas bukit di atas batu hitam. Kemudian memecah kelapa, dan syarat berat lainnya. “Kelapa itu diumpamakan kepala manusia,” ujarnya.

Pudding mengaku pernah melihat ilmu doti semasa kecil. “Bentuknya macam-macam. Tapi paling umum itu seperti telur, bulat bercahaya, terbang,” tuturnya. Doti kata Pudding dikirim untuk mengenai tubuh lawannya. “Tapi ilmu ini tidak mempan sama orang yang rajin sembahyang,” ujarnya.

Doti tidak bisa sembarang digunakan. Pengirimnya juga tidak bisa gegabah. Karena banyak orang Mandar yang bukan saja mampu menangkal, tapi juga mampu mengirim balik doti kepada si pelaku.

Padang Pakkar kata dia memang tertinggi. Kadang dibuat hanya dari janur kuning yang dianyam menyerupai gunting, jampi-jampi. Santet ini tidak berbentuk, tapi bekasnya di leher korban seperti sambaran petir.

Bagaimana dengan ilmu ayahnya? Pudding mengatakan, ilmu Pua Sado adalah warisan leluhur Mandar yang erat kaitannya dengan ajaran tasawuf. Misalnya, badan luka, dibasuh dengan air darah hilang dan daging merapat cepat.

“Bukan jampi-jampi. Cuma syair bahasa Mandar yang isinya kandungan makrifat ilmu tasawuf,” jelasnya. Dia menyaksikan sendiri “kesaktian” ayahnya yang memang terkenal semasa hidupnya itu. Seperti ilmu kebal, dan mampu melunakkan besi. “Semuanya dari agama, makrifat bahwa tidak ada apa pun selain Tuhan, tidak ada diri ini. Cuma itu yang dipakai orang dulu. Bersih hatinya dan yakin.”

Tapi untuk kebal, juga tidak boleh makan riba dan main perempuan. Bahkan kalau pun kena ludah sama orang, tidak marah, bahkan kalau perlu minta maaf. “Berat memang syaratnya. Harus ikhlas dan sabar,” ujarnya lirih.

Ilmu putih itu kata dia justru lebih disegani saat itu. Misalnya, sewaktu ayahnya jalan tiba-tiba ada truk melaju hampir menyerempet. Orang di dalam truk bukannya berhenti minta maaf tapi malah berteriak mengejek. “Bapak saya waktu cuma mendoakan supaya mereka panjang umur, eh belum jauh truknya sudah terbalik,” kenangnya.

Kuncinya yakin dan sangka baik. Seperti waktu Pudding dan ayahnya merempa ikan di pantai, malah banyak dapat ikan yang sebenarnya tinggal di laut dalam. “Orang kampung tidak percaya kami merempa, dikira ke laut pakai kapal, padahal cuma di pantai merempa,” ujarnya.

Pua Sado tokoh Mandar terkenal itu kisah-kisahnya memang mudah ditelusuri. Warga di sana mengatakan, jika ada orang meninggal maka Pua Sado yang diminta mengaji. Pasalnya, dia sangat cepat mengaji. “Satu jam bisa tiga juz, jadi cepat selesai, makanya orang senang,” kata Acong tukang jahit di sana. (*)