Donggala,50detik.com – Pagi itu, di Desa Rio Mukti, Kecamatan Rio Pakava, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, menjadi waktu bagi Nengah Wantri dan anggota Kelompok Perempuan (KP) Maju Jaya untuk merawat harapan yang mereka bangun bersama.
Di lahan sederhana di samping kediamannya, Nengah bersama sejumlah anggota kelompok sibuk menyiapkan dan merawat bibit tanaman pekarangan.
Bibit-bibit yang masih kecil itu nantinya akan dibagikan kepada anggota kelompok untuk ditanam di sekitar rumah masing-masing.
Bagi Nengah, kegiatan tersebut bukan sekadar aktivitas menanam. Ada harapan agar lahan di sekitar rumah dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus membuat anggota kelompok semakin mandiri.
“Kami bersama seluruh anggota berkomitmen untuk menjaga dan terus mengembangkan program ini agar ke depan hasilnya semakin baik dan manfaatnya semakin besar bagi keluarga anggota kelompok,” ujar Nengah.
Apa yang dilakukan Nengah dan anggota KP Maju Jaya menjadi bagian dari perjalanan pemberdayaan perempuan di Desa Rio Mukti.
Kelompok yang sebelumnya mengembangkan kegiatan peternakan babi kini mulai memperluas aktivitas dengan memanfaatkan lahan pekarangan.
Peternakan menjadi bagian dari upaya penguatan ekonomi keluarga, sementara tanaman pekarangan diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga.
Dua kegiatan tersebut berjalan beriringan. Para perempuan tidak hanya belajar mengelola ternak, tetapi juga mengembangkan kemampuan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar rumah.
Perkembangan itu turut mendapat dukungan melalui program pemberdayaan yang dijalankan PT Mamuang bersama KP Maju Jaya.
Saat kegiatan monitoring dan pendampingan, manajemen perusahaan melihat langsung perkembangan peternakan sekaligus aktivitas pembibitan tanaman yang dilakukan kelompok.
Bagi kelompok, pendampingan tersebut menjadi ruang untuk berdiskusi, mengevaluasi kegiatan, sekaligus mendapatkan dorongan untuk terus mengembangkan program.
Ketika Bantuan Mulai Tumbuh Menjadi Kemandirian
Manajemen PT Mamuang, Susila Darmawati, mengapresiasi semangat anggota KP Maju Jaya dalam mengembangkan program secara bertahap.
“Keberhasilan pemberdayaan tidak berhenti pada bantuan yang diberikan, tetapi terlihat dari kemampuan masyarakat dalam mengelola, mengembangkan, dan menciptakan manfaat baru dari program tersebut,” kata Susila dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).
Ia juga mengapresiasi semangat ibu-ibu Kelompok Maju Jaya yang telah menjalankan program ini dengan baik.
Susila melihat ada kemauan untuk terus berkembang, baik melalui peternakan maupun pemanfaatan pekarangan.
“Harapan kami, manfaat yang tumbuh dari program ini tidak hanya dirasakan anggota kelompok, tetapi ke depan dapat memberikan dampak yang semakin luas bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya,” ujar Susila.
Pengembangan tanaman pekarangan menjadi salah satu langkah untuk memperluas manfaat program.
Ketika sebagian kebutuhan pangan dapat dipenuhi dari lingkungan rumah sendiri, keluarga tidak hanya mendapatkan manfaat ekonomi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk membangun kemandirian pangan.
Lahan pekarangan yang sebelumnya mungkin belum dimanfaatkan secara optimal kini mulai dilihat sebagai sumber daya yang dapat mendukung kehidupan keluarga.
Di tangan para perempuan KP Maju Jaya, kegiatan sederhana seperti menyemai, merawat, dan menanam bibit menjadi bagian dari proses membangun kemandirian.
Dari Peternakan, Melangkah Lebih Jauh
Perjalanan KP Maju Jaya tidak berhenti pada kegiatan peternakan.
Kelompok ini mulai melihat peluang lain yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan anggota.
Manajemen PT Mamuang, Riky Agusrinaldy, mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan pentingnya pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Program yang sebelumnya dimulai dari kegiatan peternakan kini terus berkembang,” katanya.
Dirinya berharap, kelompok dapat menjaga semangat kebersamaan dan terus meningkatkan kapasitasnya agar manfaat program semakin besar.
“Ketika kegiatan ini mampu membantu ekonomi sekaligus kebutuhan pangan keluarga, maka dampak positifnya akan semakin nyata bagi masyarakat,” terang Riky.
Bagi anggota kelompok, proses tersebut bukan hanya tentang bertambahnya ternak atau tumbuhnya bibit tanaman.
Ada proses belajar, berbagi peran, dan membangun kebersamaan yang ikut berkembang.
Sebagian anggota mengurus peternakan, sementara lainnya terlibat dalam pembibitan dan pemanfaatan pekarangan.
Setiap peran menjadi bagian dari upaya menjaga kegiatan kelompok tetap berjalan.
Semangat kebersamaan inilah yang menjadi modal penting agar program dapat terus berkembang dan tidak berhenti ketika bantuan selesai diberikan.
Menanam untuk Keluarga, Tumbuh Bersama Kelompok
Bagi Nengah Wantri, dukungan yang diberikan PT Mamuang memiliki arti lebih dari sekadar bantuan.
Monitoring dan pendampingan yang dilakukan membuat anggota kelompok memiliki ruang untuk berdiskusi sekaligus mendapatkan dorongan dalam mengembangkan kegiatan.
Nengah mengucapkan terima kasih kepada PT Mamuang yang tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga terus datang melihat dan mendampingi perkembangan kelompok kami.
“Dukungan ini menjadi semangat bagi kami untuk lebih serius menjalankan kegiatan peternakan maupun tanaman pekarangan,” ujarnya.
Di tengah aktivitas peternakan dan pembibitan tanaman, tujuan yang ingin dicapai sebenarnya sederhana, membuat keluarga anggota kelompok semakin berdaya.
Ketahanan pangan dibangun dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dari pekarangan rumah, tangan-tangan perempuan yang menanam dan merawat, hingga hasil yang nantinya dapat dipanen dan dinikmati bersama keluarga.
Kegiatan KP Maju Jaya memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia dapat tumbuh dari kandang ternak dan beberapa petak pekarangan di sekitar rumah.
Dari sana, perempuan belajar mengelola usaha. Dari sana pula mereka mulai membangun kemandirian pangan.
Kini, KP Maju Jaya memiliki dua pijakan untuk terus melangkah, peternakan sebagai bagian dari penguatan ekonomi, dan tanaman pekarangan sebagai upaya memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Dengan semangat anggota kelompok dan pendampingan yang berkelanjutan, keduanya diharapkan terus berkembang menjadi sumber manfaat jangka panjang.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan sebuah program bukan hanya tentang apa yang diberikan, melainkan tentang apa yang mampu tumbuh setelahnya.
Dari Rio Mukti, harapan itu sedang tumbuh—perlahan, dari kandang ternak dan pekarangan rumah, bersama Nengah Wantri dan para perempuan yang memilih untuk terus bergerak dan berkembang. (*)





