Laporan Mulyadi T Bua

Luwuk50detik.com– Target Lifting Road To One Million Barrel atau 1 juta barel/hari, pada tahun 2030. Tak membuat pemerintah Indonesia pesimis.

Namun optimisme pemerintah semakin kuat untuk merealisasikan target Lifting tersebut. Itu dapat dilihat dari penerapan beberapa strategi yang diterapkan oleh Kementerian ESDM melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yakni, dengan mengedepankan strategi eksplorasi yang masif dan intensif, kedua mendorong dan mengkampanyekan penerapan enhanced oil recovery (EOR) di lapangan mature, dan ketiga mengakselerasi monetisasi proyek-proyek utama, sehingga mempercepat potensi sumberdaya menjadi lifting. Sebagai mana dikutip dalam siaran pers Kementerian ESDM RI Nomor 276.Pers/04/SJI/2020, tanggal (15/9/2020).

Dalam siaran pers tersebut, Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengemukakan optimisme pemerintah, sebab kini di Indonesia masih terdapat 68 dari 128 cekungan yang berpotensi mengandung minyak dan gas bumi (migas) yang belum di eksplorasi.

Enam puluh delapan cekungan yang memiliki potensi itu telah masuk dalam planning, sehingga dalam kurun waktu beberapa tahun kedepan dapat memiliki data migas akurat, yang dapat menjadi daya tarik investor menanamkan investasinya.

“Kita memang punya program jangka panjang supaya bisa merecover kembali target produksi, target lifting kita. Kita sudah punya program sebetulnya dimana tahun 2030 nantinya kita harus bisa menghasilkan produksi minyak 1 juta barel per hari,” ujar Arifin dalam siaran pers yang dipublish melalui situs resmi Kementerian ESDM, www.esdm.go.id.

Di tengah pandemi ini, lanjut Arifin, lifting migas relatif menurun. Kebutuhan energi juga menurun seiring perlambatan kegiatan ekonomi, sehingga berbagai situasi tersebut perlu diantisipasi sesegera mungkin.

“Untuk mengantisipasinya hal itu ada manuver dengan berencana untuk melelang 12 wilayah kerja baru, harus kita sesuaikan dulu jadwalnya, karena daya tarik bisnis menurun, harga minyak menurun, hal itu berpengaruh pada iklim investasi sehingga perlu dilakukan penyesuaian,” ungkap Arifin.

Selain itu juga pemerintah (Kementerian ESDM-red) melalui SKK Migas dan kontraktor migas telah membangun komitmen bersama untuk meningkatkan kegiatan eksplorasi. Diantaranya adalah pelaksanaan survey seismik 2D terbesar di Asia Pasifik melalui Komitmen Kerja Pasti Wilayah Kerja Jambi Merang. Progresnya sampai dengan saat ini telah mencapai 23.705 km atau sebesar 79 persen dari target 30.000 km.

“Progres, strategi untuk pencapaian lifting dengan dilakukannya survey seismik melewati area yang berpotensi menjadi penemuan besar (giant discovery), sebagai salah satu langkah SKK Migas untuk menemukan wilayah kerja migas baru agar dapat menopang produksi migas yang berkelanjutan,” pungkas Arifin.*/rls