Jakarta,50detik.com– Sebagian besar orangtua masih merasa tabu untuk mengajarkan seks kepada anak sejak dini. Padahal, menurut para ahli, pendidikan seks seharusnya dikenalkan sedini mungkin pada anak. Tujuannya, agar si anak tidak mendapatkan informasi yang keliru mengenai seks. Tidak hanya itu, pendidikan seks juga bisa membuat mereka untuk lebih berhati-hati dalam pergaulan, bahkan terhindar dari kekerasan atau pelecehan seksual.

Data KPAI, tingkat kekerasan seksual anak selama 2019 tercatat 21 kasus kekerasan seksual dengan jumlah korban mencapai 123 anak yang terjadi di institusi Pendidikan, terdiri atas 71 anak perempuan dan 52 anak laki-laki. Hasil KPAI menunjukan dari 21 kasus kekerasan seksual terjadi di sekolah, 13 kasus atau sebanyak 62% terjadi di jenjang SD, 5 kasus atau 24% di jenjang SMP/sederajat dan 3 kasus atau 14% di jenjang SMA.

Komnas Perempuan tahun 2019, mencatat dari 2341 kasus kekerasan terhadap anak perempuan ada 770 kasus merupakan hubungan inses, kekerasan seksual 571, kekerasan fisik 536, kekerasan psikis 319 dan kekerasan ekonomi 145 kasus. Kekerasan seksual online pada anak menjadi trend baru di banyak negara termasuk Indonesia, maka dari itu pentingnya dilakukan pendidikan seks sejak dini.

Pendidikan seks adalah pemberian informasi dan pembentukan sikap serta keyakinan tentang seks, identitas seksual, hubungan, dan keintiman. Hal ini menyangkut anatomi seksual manusia, reproduksi, hubungan seksual, kesehatan reproduksi, hubungan emosional dan aspek lain dari prilaku seksual manusia, hal ini sangat penting bagi manusia, sehingga setiap anak memiliki hak untuk dididik tentang seks.

Pendidikan seks mempunyai pengertian yang jauh lebih luas yaitu upaya memberikan pengetahuan tentang perubahan biologis, psikologis, dan psikososial sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan manusia pendidikan seks pada dasarnya merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika serta komitmen agama agar tidak terjadi penyalahgunaan organ reproduksi tersebut. Dengan demikian pendidikan seks ini juga bisa disebut pendidikan kehidupan keluarga.

“Peran orangtua amat penting agar anak mendapatkan pendidikan seksual yang pas. Pendidikan seks yang sesuai takarannya sangat penting untuk menghindari gangguan psikologis. Sebab anak yang terpapar informasi seks yang salah, rentan menjadi toxic people”, ujar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), DR. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) pada kegiatan Webinar Pengembangan dan Penguatan Kesehatan Reproduksi Anak secara virtual di Jakarta, 24 Maret 2021.

Awal pengenalan pada anak adalah seks, yaitu sesuatu berhubungan dengan jenis kelamin secara biologis. Kemudian tahapan selanjutnya seksualitas, pengertian lebih luas, termasuk didalamnya yaitu Biological hygiene (jenis kelamin), Personal hygiene (identitas diri), Gender orientation (orientasi seksual), Pregnancy and reproduction (kehamilan dan alat reproduksi), Healthy relationship (hubungan yang sehat) dan Consent (persetujuan atau ijin).

“Pengenalan seksualitas pada anak itu banyak yg salah kaprah, bukan mengajari hubungan Seks, tapi memperkenalkan siapa laki-laki, siapa perempuan, atau organ seks laki laki dan organ seks perempuan. Serta bagaimana resiko serta bahayanya dan bagaimana menjaga kesehatannya“ tegas Hasto.

Keterbukaan bisa terjadi jika orangtua dan anak selama ini sudah memiliki komunikasi yang baik. “Banyak orangtua yang tidak tahu cara berkomunikasi dengan anak, dan anak tidak menjadikan orangtua sebagai teman,” kata Nyi Mas Diane Wulansari atau yang akrab disapa Ibu Dee, Praktisi Pendidikan Keluarga. Selain peran ibu, peran ayah dalam mendidik anak-anaknya menjadi sangat penting. Ia mengatakan, saat ini di banyak keluarga peran ayah semakin tenggelam. Padahal ayah adalah sosok panutan bagi anak. “Jika hubungan dengan ayah kaku, bisa dipastikan si anak akan memiliki pribadi yang bermasalah nantinya,”.

Ibu Dee menambahkan, tantangan orangtua di zaman sekarang sangat berbeda dengan orangtua di masa lalu. Karena itu, menurutnya, tidak tepat jika orangtua masih menerapkan aturan yang sama seperti yang diterapkan ayah-ibu mereka terdahulu. Terapkan peraturan yang disesuaikan dengan keadaan zaman sekarang.

“Hindari untuk mengatakan alat kelamin dengan Istilah-Istilah. Berikan informasi sesuai yang diharapkan dan dibutuhkan anak. Selain itu orangtua juga harus memahami bahwa anak-anak perlu kenyaman dan keterbukaan dengan orang tua agar dapat berkomunikasi dan bercerita mengenai berbagai hal” tambahnya.

Orangtua, misalnya, harus bisa menjelaskan hubungan seksual seharusnya dilakukan dalam lembaga pernikahan. Jika anak yang masih sekolah melakukan hal tersebut ia akan menanggung malu dan mungkin akan dikeluarkan dari sekolah dan masa depannya suram. Intinya adalah komunikasi yang baik dalam keluarga.

Dengan melakukan komunikasi yang baik, pendidikan seks yang tepat akan meminimalisir permasalahan kesehatan reproduksi yang akan timbul kedepannya. Mengajarkan pendidikan seks sejak dini sesuai dengan umur anak sangat penting dan keluarga diharapkan dapat menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak dalam pendidikan seks, jangan tabu, komunikasi yg terbuka akan menjadi solusi yang baik. (Humas/A)

SUMBER: Biro Umum dan Hubungan Masyarakat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional