” Perlu kita pikirkan suatu lembaga yang dapat melindungi harga produksi petani. Untuk itu, kami akan berupaya agar Perusahaan daerah (Perusda) Poso, segera di aktifkan. ” dr. Verna GM Inkiriwang.
“Pencanangan “kampung hultikultura” yang di inisiasi dinas pertanian Kabupaten Poso. Patut kami beri apresiasi karena sudah sesuai dengan Visi – Misi pemerintah daerah, pada point pertama, mewujudkan “Desa Maju” dan point ke empat tentang ” Masyarakat Poso Sejahtera,”. Ungkap bupati yang tidak pernah lelah menyusuri setiap kampung di kabupaten Poso ini, menyampaikan penghargaanya.
“Saat Panen raya, petani harus lebih jeli membaca pasar. Karena kesempatan seperti itu, adalah peluang bagi para tengkulak tidak bertanggungjawab mempermainkan harga. Dengan alasan nilai jual di pasaran lagi anjlok. Akibatnya, tidak sedikit hasil produksi petani hanya di beli di bawa harga. Nasib petani yang sering apes, ibarat sudah jatuh, ketimpa tangga pula,” Terang Bupati Verna bernada kecewa dengan permainan tengkulak.
“Sejak sekarang seluruh petani di lembah napu sudah harus mempertimbangkan produksi yang berdaya saing di pasaran, seperti kopi Arabika. Varietas ini sangat di minati beberapa negara luar seperti Amerika dan Cina. Demikian pula dengan sayur dan buah, harus ada inovasi pengembanganya agar mampu bersaing di pasaran. Kita memiliki peluang pasar pada perusahaan -perusahaan besar di morowali, dan kalimantan.
“
Hadir dalam pertemuan tersebut Erick Tamalagi, staf khusus dari kementerian pusat. Erick Tamalagi mengungkapkan bahwa pembentukan kampung Hultikultura di Kabupaten Poso adalah langkah tepat karena sudah sesuai dengan potensi wilayah.
Selain pencanangan Kampung Hultikultura, bupati turut meresmikan sekaligus menandatangani prasasti irigasi perpipaan untuk kelompok tani setempat. Kegiatan di lanjutkan dengan acara panen tomat yang di rangkaikan dengan penyerahan penghargaan piala bergilir schistomiasis cup kepada puskesmas Wuasa, dan piagam penghargaan inovasi schisto Gadar Basis kepada 3 orang pemilik lahan bebas keong terbaik.
Penulis : Ferdinand Puahadi
