Pasangkayu,50detik.com– Berawal dari ketertarikan mendalam terhadap kopi, Fendi Eko Widodo (36), kini sukses mengembangkan usaha kedai kopi bernama Opakopi di Kabupaten Pasangkayu.
Pria yang akrab disapa Mas Eko ini bukan berasal dari keluarga pebisnis kopi. Ia merupakan putra dari keluarga transmigran yang datang ke Lalundu sejak 1991. Sementara dirinya sendiri, sempat merantau dan menempuh pendidikan di Universitas Jember sebelum kembali ke kampung halaman pada 2008.
Tak berhenti di situ, Mas Eko juga menyelesaikan pendidikan Strata Dua (S2) jurusan Bahasa Indonesia di Universitas Tadulako (Untad) Palu.
Perjalanan Opakopi dimulai pada 2018. Saat itu, ia mulai mempelajari kopi dari nol—mulai dari mengenal jenis, proses panen, hingga teknik pengolahan.
“Saya belajar dari awal, bagaimana mengenal kopi, jenisnya, sampai cara pengolahannya. Dari situ saya lihat ini punya prospek,” ujarnya.
Selama kurang lebih tiga tahun, ia fokus bereksperimen membuat bubuk kopi sendiri dengan memanfaatkan bahan baku lokal. Proses tersebut, diakuinya tidak mudah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Banyak modal yang habis di proses belajar. Tapi justru di situ saya makin tertantang untuk menghasilkan kopi yang enak,” katanya.
Setelah merasa matang, pada 20 Februari 2023, Mas Eko memberanikan diri membuka kedai pertama Opakopi di Jalan Trans Sulawesi, Desa Jengeng Raya, Kecamatan Tikke Raya.
Awalnya, kedai tersebut hanya memiliki sekitar 20 meja dengan dua karyawan, menyajikan menu kopi, makanan western, dan aneka snack.
“Jadi memang saya pastikan dulu matang, baru berani buka,” tegasnya.
Seiring waktu, Opakopi berkembang. Pada 20 Februari 2026, cabang kedua resmi dibuka di Desa Malei, Kecamatan Pedongga.
Berbeda dengan konsep awal yang mengusung nuansa klasik dan coffee roastery, cabang baru ini tampil dengan konsep industrial modern, dominan warna hitam dan material kayu, serta dilengkapi fasilitas karaoke.
Tak hanya menjual minuman, Opakopi juga menyediakan roastbeans robusta dan arabika, hingga bahan baku green beans bagi pelaku usaha maupun penikmat kopi.
“Kami roasting by order, bahan bakunya green beans grade A, supaya kualitas rasa tetap terjaga,” jelasnya.
Kini, Opakopi telah melibatkan tujuh karyawan yang sebagian besar merupakan anak muda lokal. Bahkan, kedai ini turut menjadi ruang tumbuhnya komunitas positif.
“Saya senang karena Opakopi bisa jadi tempat anak-anak muda berkumpul dan berdiskusi hal-hal positif. Bahkan ada komunitas yang lahir dari sini,” ungkap Mas Eko.
Dengan jam operasional mulai pukul 09.00 hingga 24.00 WITA setiap hari, Opakopi juga didesain ramah untuk semua kalangan, termasuk keluarga muda.
Mas Eko menegaskan, tujuan utamanya bukan sekadar bisnis, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Saya ingin Opakopi ini jadi wadah. Tempat yang bermanfaat untuk banyak orang,” tutupnya. (Egi)
Opakopi, Dari Proses Belajar Hingga Jadi Ruang Anak Muda di Pasangkayu
