Palu, 50detik.com– Mahasiswa Program Studi Diploma III Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palu melaksanakan Praktik Kegawatdaruratan Bencana dan Manajemen Krisis di Desa Wani II, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, sejak 26 hingga 28 Mei 2025.
Kegiatan ini melibatkan 93 mahasiswa tingkat III semester VI yang dibagi dalam lima kelompok. Praktik lapangan ini merupakan bagian dari kurikulum Program Studi D III Kebidanan yang memasukkan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) Kesehatan Reproduksi dalam Situasi Krisis sebagai muatan lokal sejak 2014.
Ketua panitia kegiatan, Widya Pani, SST., SKM., M.Kes., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam menangani kondisi darurat, terutama di wilayah kerja puskesmas yang rawan bencana. “Praktik ini diharapkan membekali mahasiswa agar mampu menjadi tenaga kesehatan cadangan yang siap menghadapi kondisi krisis,” ujarnya.
Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Direktur III, Sumiaty, S. SiT.,MPH, tahun ini mengambil tema “Next-Gen Bidan: Kompeten Hadapi Krisis dan Kegawatdaruratan Bencana”. Selain praktik langsung, mahasiswa juga diberikan pembekalan teori dan simulasi di laboratorium sebelum diterjunkan ke lapangan.
Widya menjelaskan selama kegiatan, mahasiswa melaksanakan berbagai aktivitas edukatif, di antaranya edukasi kesiapsiagaan bencana kepada ibu hamil, ibu bayi/balita, wanita usia subur (WUS), dan anak sekolah.
“Pelatihan kader kesehatan tentang penanganan komplikasi kehamilan dan persalinan darurat, pemeriksaan risiko kehamilan dan distribusi kit kesiapsiagaan, dan simulasi stabilisasi kondisi pasien sebelum rujukan berdasarkan prinsip manajemen obstetri dan neonatal” katanya.
Masih kata Widya, praktik lapangan ini terdiri dari empat tahap, yakni persiapan lokasi, pembekalan materi, implementasi di lapangan, dan pembuatan laporan hasil kegiatan. Evaluasi dilakukan oleh dosen pembimbing institusi dan pembimbing lahan.
“Kesiapsiagaan sangat penting, apalagi melihat pengalaman bencana 28 September 2018 yang melanda Palu, Sigi, dan Donggala. Tenaga kesehatan pun saat itu banyak yang tidak siap,” kata Widya menambahkan.
Kegiatan ini ditutup dengan pembuatan laporan, dokumentasi, serta luaran berupa artikel ilmiah, sertifikasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dan publikasi di media online.***
