Palu, 50detik.com— Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum refleksi bagi dunia pers dan industri media nasional. Di tengah perkembangan teknologi digital yang berlangsung sangat cepat, Ketua Umum Jaringan Media Indonesia Raya (JAMIRA), RM Gusti Haes, mempertanyakan arah perkembangan media digital nasional dan masa depan industri pers di Indonesia.
Menurut RM Gusti Haes, kemajuan teknologi telah mengubah secara drastis cara masyarakat memperoleh dan mengonsumsi informasi. Telepon genggam dan berbagai platform digital kini menjadi sarana utama masyarakat untuk mendapatkan berita dan mengikuti perkembangan berbagai peristiwa.
“Informasi bergerak dalam hitungan detik. Satu peristiwa dapat menjadi pembicaraan nasional hanya dalam beberapa menit,” ujar RM Gusti Haes dalam refleksinya menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Perubahan tersebut, menurutnya, memberikan peluang besar bagi media digital untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan pelayanan informasi kepada masyarakat. Namun, perkembangan itu juga menghadirkan tantangan serius, terutama dalam menjaga akurasi, etika, independensi, dan kepercayaan publik.
Kemerdekaan Pers Harus Disertai Tanggung Jawab
RM Gusti Haes menegaskan, kemerdekaan pers tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas. Kebebasan pers harus berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap publik.
Di tengah persaingan media digital, kecepatan publikasi sering kali menjadi salah satu ukuran keberhasilan. Kondisi tersebut dapat menimbulkan godaan bagi media untuk mengejar klik dan trafik dengan mengabaikan proses verifikasi.
Menurutnya, judul berlebihan, informasi yang belum terverifikasi, serta konten sensasional berpotensi mengikis kepercayaan masyarakat terhadap media.
“Kepercayaan publik adalah modal terbesar media. Trafik dapat naik dalam sehari, sebuah konten dapat viral dalam beberapa jam, tetapi kepercayaan masyarakat dibangun melalui proses panjang dan dapat hilang dalam waktu singkat,” katanya.
Karena itu, masa depan media digital nasional tidak semata-mata ditentukan oleh kecepatan atau jumlah pembaca, tetapi juga oleh kemampuan media menjaga kualitas jurnalistik, akurasi, independensi, dan integritas.
AI Jadi Peluang Sekaligus Tantangan
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi perhatian dalam transformasi industri media.
RM Gusti Haes menilai AI dapat membantu pekerjaan jurnalistik, terutama dalam pengolahan data dan meningkatkan efisiensi kerja. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap harus berada dalam koridor etika dan prinsip jurnalistik.
“Teknologi hanyalah alat. Manusia tetap berada di balik keputusan editorial,” tegasnya.
Menurutnya, media nasional harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik, seperti verifikasi, tanggung jawab editorial, kepentingan publik, dan independensi.
JAMIRA Dorong Media Bersatu
Dalam menghadapi perubahan industri media, RM Gusti Haes juga mendorong penguatan kolaborasi antarperusahaan media.
Indonesia memiliki ribuan media dengan karakter dan jangkauan yang berbeda, mulai dari media nasional, media daerah hingga media komunitas. Keberagaman tersebut dinilai sebagai kekuatan yang perlu dipertahankan.
“Persaingan tetap penting. Tetapi kolaborasi juga semakin diperlukan,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi tidak berarti menghilangkan independensi masing-masing media. Setiap perusahaan pers tetap memiliki identitas dan kebijakan editorial sendiri.
Kolaborasi diperlukan untuk memperkuat keberlanjutan industri media, meningkatkan profesionalisme, mengembangkan sumber daya manusia, serta menghadapi perubahan teknologi dan model bisnis media.
Semangat tersebut, kata dia, menjadi salah satu landasan hadirnya Jaringan Media Indonesia Raya (JAMIRA) sebagai ruang kebersamaan bagi pemilik, pengelola, dan pelaku industri media.
“Kita tidak harus menjadi sama untuk dapat berjalan bersama. Keberagaman media Indonesia justru merupakan kekuatan yang harus dijaga,” katanya.
Media Daerah Jangan Ditinggalkan
RM Gusti Haes juga menekankan pentingnya memperkuat posisi media daerah dalam ekosistem digital nasional.
Menurutnya, Indonesia bukan hanya Jakarta. Indonesia terdiri atas ribuan pulau, ratusan kabupaten dan kota, serta masyarakat dengan persoalan dan karakter yang beragam.
Media daerah memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi dari tingkat akar rumput. Berbagai persoalan lokal yang tidak selalu menjadi perhatian media nasional dapat diangkat dan disuarakan melalui kerja jurnalistik media daerah.
Karena itu, transformasi digital harus memberikan ruang yang lebih besar bagi media daerah untuk berkembang.
“Digitalisasi tidak boleh hanya menciptakan kesenjangan baru antara media besar dan media kecil,” katanya.
Ia mendorong agar media daerah memiliki kesempatan meningkatkan kualitas teknologi, kapasitas sumber daya manusia, serta membangun model bisnis yang berkelanjutan.
Momentum HUT ke-81 RI
Memasuki 81 tahun kemerdekaan, RM Gusti Haes mengajak seluruh insan media menjadikan momentum HUT ke-81 RI sebagai kesempatan untuk memperkuat persatuan dan meningkatkan profesionalisme.
Menurutnya, mengisi kemerdekaan bagi insan pers berarti menjaga hak masyarakat mendapatkan informasi yang benar, mempertahankan profesionalisme di tengah perubahan, serta berani beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai dasar jurnalistik.
Indonesia, kata dia, membutuhkan media yang cepat namun tetap akurat, modern tetapi tetap beretika, mandiri namun tetap berpihak pada kepentingan publik.
“Media Indonesia tidak hanya membutuhkan persaingan. Kita membutuhkan kepercayaan, profesionalisme, inovasi, dan kebersamaan,” ujarnya.
RM Gusti Haes menilai masa depan media digital nasional kini berada pada titik penting. Media harus menentukan apakah hanya menjadi penonton perkembangan teknologi atau mengambil peran sebagai bagian dari perubahan dengan membangun industri media yang kuat, profesional, kredibel, dan berkelanjutan.
Sebagai Ketua Umum JAMIRA, ia mengajak seluruh insan media di Indonesia memperkuat jaringan dan kolaborasi demi menghadapi tantangan industri media ke depan.
“Media Bersatu, Indonesia Maju.”
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka!
