foto: marwan

By: Marwan P Angku

Palu, 50detik.com–Hanya hitungan detik, bencana dahsyat di Jumat kelam itu mengubah segalanya. Nyaris seluruhnya “kembali ke pengaturan awal”, jika dianalogikan dengan telepon genggam (HP). Sekejap “pengaturan” yang selama ini kita pakai ter-“reset”.

Memori Petobo dan Balaroa, hingga pesisir pantai dan lain-lain yang berisi aplikasi rupa-rupa bangunan serta aksesoris-aksesoris lain, kembali dikosongkan separuh lebih besar, bahkan seluruhnya. Memori itu tak bisa lagi dipakai, ditandai dengan kode “zona merah”.

Kebiasaan kita saat tinggal bersama keluarga di rumah, berinteraksi sesama birman dan lingkungan sosial, seketika berubah total. Paling banter kini bertetangga tenda atau Huntara, tapi tetap saja berbeda dengan yang dulu. Interaksi dulu seumpama mudahnya saling “bloethooth”, sekarang tercerai berai di pengungsian.

Beruntung HP merk “Palu” itu masih ada. Masih bisa “pengaturan ulang”. Tapi musti hati-hati, jangan sampai salah atur. Sebab, kita paham sudah HP kita ternyata rawan “hank”. Gempa mengintai tiap saat. “Virus” Palu Koro super aktif.

Aplikasi “mitigasi bencana” yang selama ini kita abaikan, penting di-“download” dan diperbaharui, untuk menjadi mata pelajaran, baik formal maupun secara personal.

foto: marwan

Dalam pengaturan ulang bila perlu aplikasi ini taruh di layar depan. Begitu pentingnya bikin “wallpaper” juga oke.

“Notifikasi”, bunyi tanda pesan yg selama ini kita biarkan “off”, sdh saatnya “on” terus. Banyaknya korban tsunami akibat tidak adanya “early warning system” (sistem peringatan dini) tsunami, yang fungsinya mirip Notifikasi HP itu.

Mengganti HP Palu tentu tdk mungkin. Yang tidak mustahil adalah membangun/menatanya menjadi kota baru dengan pengaturan ulang, tanpa mengabaikan kapasitas “memori”-nya (daya dukung lingkungan). Pun tdk menatanya secara sepihak, melainkan melibatkan segenap unsur masyarakat, khususnya penyintas.

Untuk mempercepat “pengaturan ulang”, semangat bangkit para penyintas musti dibangkitkan, diantaranya dengan cara membebaskannya dari kesulitan membayar kredit bank. Tanpa itu, kita tdk akan kuat untuk bangkit. Slogan “Palu kuat, Palu bangkit” tak ubahnya teriakan di gurun pasir.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here