Laporan: Rahmat Pratama

Palu, 50detik.com—Kehadiran Wapres  Jusuf Kalla di Palu, Sulteng, Minggu siang pukul 13.30, disambut dengan aksi demo forum warga korban likuifaksi Petobo.

Ketua Forum Warga Korban Likuifaksi Petobo Yahdi Basma merilis, bahwa

korban likuifaksi Petobo di Camp Pengungsi Warga Petobo (perempatan Petobo Atas) diwakili oleh sejumlah warga korban, gelar aksi bentang spanduk bertuliskan “Pak Wapres, Kami Butuh Air, Air, Air…!”.

Disebutkan, aksi tersebut sengaja tanpa toa (pengeras suara), karena memang hanya sekedar ingin bentangkan spanduk agar dapat dibaca oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla yg sedang kunjungan kerja meninjau Huntara di Sigi dan Petobo-Palu.

Puluhan warga korban yang  sedari pagi bersiap menunggu Wapres di pengungsian, diminta oleh Paspampres untuk tutup spanduk dengan argumentasi bahwa bentangkan spanduk, tidak sesuai SOP kunjungan kerja Wapres.

 

Diketahui, sejak bencana 28 September 2018, hingga kini, 11 Nopember 2018, jumlah pengungsi warga Petobo yg selamat dari gulungan likuifaksi di Camp Petobo Atas sedikitnya 3.011 jiwa, sangat kekurangan pemenuhan kebutuhan air bersih.

 

Sistem supplay air bersih dari tangki-tangki ke tandon warga, berlangsung selama ini, menyisakan berbagai masalah baru, selain penyakit dan problem sosial bawaan. Problem sosial bawaan dimaksud, karena camp-camp pengungsi tidak semua miliki tandon. Disebutkan, kecemburuan antar warga jadi masalah baru. Tangki yang aktif supplay, selain PMI (14 ret rata-rata perhari),

Diungkapkan, damkar dan sejumlah relawan, saat masa tanggap darurat memang cukup memadai, karena banyak supplay dan jumlah pengungsi belum lebih 1.500 jiwa. Tetapi dari hari ke hari sejak tanggap darurat dicabut 16 Oktober 2018, Camp Petobo Atas ini dihuni berbondong-bondong warga Petobo yang sebelumnya mengungsi diberbagai tempat lain seputar Kota Palu dan Loru Sigi.

 

Aksi Bentangkan Spanduk yg dilakukan oleh forum warga korban likuifaksi Petobo tadi, justru ditutupi oleh barikade puluhan intel dan Pol PP.

“Lipat paksa spanduknya…! demikian hardik salah satu Paspampres,’’ tulis dalam pres release.

Dikatakan, seketika seorang pakaian sipil (intel) memaksa warga yg pegang spanduk, tetapi warga bertahan dan tetap bentangkan spanduk.

Walhasil, katanya, saking enggannya redaksi spanduk dibaca Wapres, puluhan Intel dan Pol PP ini lalu barikade dengan cara berjejer depan Spanduk yang dipegang warga, dengan berdiri berbaris ketat tidak beri celah sejengkalpun agar spanduk ditutupi oleh barisan badannya.

Dikatakan, sikap anti-aspirasi yang dipertontonkan Aparat Sipil (Pol PP) dan sejumlah intel ini, akhirnya forum warga korban likuifaksi Petobo sampaikan sikap

Pertama, mendesak Pemerintah/Pemda laksanakan kewajibannya terhadap kebutuhan pokok warga khususnya pemenuhan air bersih.

Kedua, menolak pelaksanaan proyek air bersih dengan metode sumur bor, yg saat ini sedang dilaksanakan, kecuali pemerintah segera menyampaikan rekomendasi ilmiah dari otoritas geologi bahwa dengan sumur suntik atau sumur bor, tidak berdampak bagi kerentanan gempa di masa depan. Warga butuh layanan informasi ilmiah yang memadai, dan wajib dilakukan Pemerintah.

Ketiga, menyesalkan dan meminta Pimpinan Paspamres & Kaban Pol PP Kota Palu, untuk beri penjelasan, SOP mana yang dimaksud bahwa spanduk tak bisa dipasang dititik kunjungan kerja Kepresidenan.

Seharusnya, katanya, telisik pada isi spanduk, bukan bendanya. Isi spanduk yg dibentangkan warga hanya soal satu aspirasi pokok yg terkait hajat hidup orang banyak.

 

 

 

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here