Dr Rafiuddin Nurdin, SP, MH, MP/Foto: FB

Laporan: Andi Amal

Palu,50detik.com- Pandemic Covid-19 yang telah menyebar di 126 negara termasuk di Indonesia, mengharuskan berbagai sector untuk segera mengambil sikap dalam mencegah penularan yang lebih luas.

Termasuk di sector pendidikan.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengambil sikap tegas melalui Surat Edaran (SE) Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat di tengah pandemic Covid-19, yang diantaranya memuat arahan kebijakan kegiatan belajar di rumah.

Kebijakan tersebut meliputi semua jenjang, baik negeri maupun swasta melalui Pendidikan Jarak Jauh (PPJ). Sayangnya, implementasi atas SE Kemendikbud tersebut mengalami hambatan sekaligus hambatan yang dihadapi program PJJ.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerjasama Universitas Muhammadiyah Palu, Dr Rafiuddin Nurdin, SP, MH, MP yang tampil sebagai pemateri tunggal dalam Kuliah Umum Online AKBID Graha Ananda, Selasa (19/05/2020), mengatakan idealnya PJJ harus dapat mengakomodasi kebutuhan belajar peserta didik untuk dapat mengembangkan bakat dan minat serta membentuk kepribadian diri selaku insan yang berkarakter.

Menurut Dr Rafiuddin, ada beberapa hambatan sekaligus tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan PJJ. Diantarnya ketimpangan teknologi di masing-masing wilayah, keterbatasan kompetensi tenaga pendidik dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran, sarana dan prasarana pendukung piranti teknologi dan jaringan yang belum memadai, serta kurikulum, sistem dan metode pembelajaran yang belum memadai atau belum tersedia.

‘’Selama ini pembelajaran online hanya sebagai perangkat teknis. Tapi belum sebagai cara berpikir, sebagaimana paradigma pembelajaran. Padahal, pembelajaran online bukan metode untuk mengubah belajar tatap muka dengan aplikasi digital, bukan pula membebani mahasiswa setiap hari belajar online,’’ujarnya.

Menurutnya, pembelajaran online ini mendorong mahasiswa menjadi kreatif mengakses sebanyak mungkin sumber informasi, menghasilkan karya, mengasa wawasan yang pada akhirnya akan membentuk mahasiswa menjadi pembelajar sepanjang hayat.

‘’Ibarat lilin, Like A Candle dan sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi orang lain,’’sebutnya.

Dari tantangan di atas lanjut Rafiuddin, ‘’kita harus berani melangkah menjadikan pembelajaran online sebagai kesempatan untuk mentransformasikan pendidikan’’.

Dia menilai, setidaknya ada tiga langkah atau strategi dalam perbaikan sistem pendidikan khususnya terkait pembelaran daring. Pertama, menanamkan pola pikir tentang cara baru dalam proses pembelajaran, reformasi kurikulum yang lebih sesuai dengan tuntutan skill abad 21 dan kebutuhan industry, formasi model pembelajaran yang sesuai kebutuhan peserta didik.

Kedua, menyiapkan regulasi untuk pengembangan sumber belajar online/digital. Sebab, regulasi yang sudah ada tetnang PJJ belum mengatur pemgembangan sumber materi seperti platform yang menyediakan kelas daring secara massif dan terbuka menjadi salam saru trend praktek pembelajaran daring yang paling efektif saat ini. Ketiga, mencetak tenaga pendidik yang adaptif dalam teknologi pembelajaran.(***)