by: Empenoer

Limbua, 50detik.com – Mushallaa Ar-Raudah mau dipake shalat tarwih iya ? siapa imamnya? pertanyaan seperti ini selalu mengemuka ketika saya bertemu orang di kampung di Lembang, seolah mereka tak yakin program gema ramadhan yang digulirkan akan sukses, sebab selain pembangunan mushalla yang belum selesai, juga pelaksana imam, khatib dan bilal belum ada.

Menerima pertanyaan demikian, saya dan mantan lurah mosso, Aminuddin, SH cuma masem-masem, tidak ambil.pusing dengan asumsi orang, karena yang kerja bukan mereka. Prinsip kami berdua maju saja, apapun yang dihadapi, keberadaan mushallaa yang hanya menggunakan atap terpal – itupun “cap pinjam” tidak menjadi penghalang membangun karakter santri.

Soalnya menghadapi kondisi seperti mashallaa Ar-raudah Lembang Limbua, Sendana Majene, Sulbar bukan hal baru bagi kami berdua, sebab sekitar 30 tahun lalu, kami juga berdua menggalang anak-anak remaja. yang kala itu kami berdua masih usia remaja pula menginisiasi pembangunan masjid raudhatussalihin Lembang dimulai dengan pergerakan remaja kompleks pasar yang disingkat Rekelekspa yang dimotor anak muda berbakat Agus Jusuf K dan sederet remaja lainnya yang punya semangat yang sama membangun masjid raudhatussalihin, menggelar safari drama dari kampung ke kampung. Mungkin karena kala itu belum ada handphone, sehingga semangat untuk menghibur, dan wargapun merespons kehadiran kami merski berbayar dengan HTM Rp 50, lumayan hasilnya bisa disetiap kampung Rp 600 dan hingga ahir kami bisa mengumpul Rp 1 juta lebih yang menjadi modal awal mendirikan masjid raudhatus shalihin.

Usaha membangun masjid tersebut bukan tanpa rintangan, sebab dibalik program tersebut tidak sedikit yang menolak, beruntung ada tokoh masyarakat yg memberi support yakni almarhum Husain, BA, almarhum H.M. Jusuf K, BA dan almarhum Kasida, BA semoga dukungan beliau mendapat ganjaran pahala jariyah, aamiin.

Menjadi terasa lucu, kalau kemudian keberadaan mushallah Ar-Raudah Lembang Limbua yang menjadi cikal bakal lahirnya pendidikan berbasis pondok, selalu dipertanyakan tentang sosok imam di mushallah tersebut.

Suatu ketika sehari sebelum puasa 1 ramadhan kembali ada yang bertanya. apa benar sudah mau ditempati betul salat tarwih? saya jawab iya. Kemudian disusul pertanyaan siapa imamnya? mendengar pertanyaan yang kesekian kalinya terlontar, saya kemudian setengah berkelakar, ada noh, DARAWIS sepontan orang yang mendengar tertawa terpingkal-pingkal ha..ha..ha..ha… sebab bagi orang Lembang Limbua semua tau pembawaan DARAWIS, tetapi bagi saya Darawis yang kebetulan kemanakan saya yang boleh dibilang cara berfikirnya di bawah standar. tdk tamat sekolah, punya kelebihan di luar nalar manusia umumnya, sebab orang luar Lembang dan Lakkading, seperti Somba, Labuang, Tinggas, Totolisi sangat disanjung dan dihargai bahkan seringkali disejajarkan sebagai tabib yang bisa mengobati beragam penyakit, wallahu alam,