SELAMAT HARI GURU

Palu, 24/11/2021

Oleh Mochtar Marhum

Amerika menjatuhkan Bom Atom di Kota Hiroshima dan Kota Nagasaki secara berturut-turut pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 menewaskan 90.000–146.000 orang di Kota Hiroshima dan 39.000–80.000 di Kota Nagasaki; kurang lebih separuh korban di setiap kota tewas pada hari pertama.

Kemudian pada bulan-bulan seterusnya, banyak yang tewas karena efek luka bakar, penyakit radiasi, dan cedera lain disertai sakit dan kekurangan gizi.

Peristiwa yang naas ini telah menjadikan tahap akhir Perang Dunia Kedua.

Dua operasi pengeboman yang sangat mematikan itu merupakan penggunaan senjata nuklir masa perang untuk pertama kali dan satu-satunya dalam sejarah.

Setelah mengetahui terjadinya serangan dasyat di dua kota besar di Jepang, muncul pertanyaan menarik dari pemimpin Jepang kala itu, yang membuat rakyat dan Tentara Jepang bingung, tapi kemudian juga merasa terharu.

Ketika itu keluar pertanyaan dari mulut Kaisar Hirohito, pemimpin Jepang yang sangat kharismatik.

Beliau bertanya, “Berapa jumlah guru yang tersisa?”

Kata-kata yang mengharukan keluar dari mulut Kaisar Hirohito merupakan respon pertama yang Ia keluarkan setelah mendengar berita luluh lantaknya Kota Hiroshima dan Kota Nagasaki.

Kehancuran dua kota itu pula yang menjadi alasan Kaisar Jepang menyelamatkan guru setelah Perang Dunia 2.

Jepang bangkit dan kemudian menjadi negara terkuat ekonominya pasca perang dunia kedua setelah pernah hancur diluluhlantahkan oleh dasyatnya Bom Atom ketika itu.

Sejarah kebangkitan dan kemajuan bangsa Jepang tidak lepas dari perhargaan mereka pada profesi guru serta dukungan penuh mereka pada perkembangan dunia pendidikan.

Dalam perspektif Islam, Guru merupakan profesi yang sangat mulia terutama dikaitkan antara profesi guru dan dunia pendidikan. Dan islam telah mengajarkan ummatnya untuk menuntut ilmu sejak dalam buaian ibu sampai ke liang lahat.

Menurut logika yang terkandung adalah jika tidak ada peran atau sosok seorang guru maka kemanakah sesorang akan belajar ataupun menuntut ilmu ?

Walaupun di Era industri 4.0 yang ditandai dengan ketergantungan dunia pendidikan pada teknologi informasi dan komunikasi.

Di Era distrupsi ini bahkan banyak masyarakan yang mendwakan mesin pencari (Search Engine) seperti Google.

Ada yang menjadikan mesin pintar tersebut sebagai pengganti peran guru. Namun, pada hakikatnya peran guru tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi secanggih apapun.

Peran sosok guru tidak akan pernah tergantikan oleh apapun karena kriteria sosok pendidik yang ideal memiliki kriteria tertentu yang tidak bisa digantikan oleh teknologi secanggi apapun.

Imam Ghazali menyebutkan ada beberapa syarat untuk menjadi guru yang ideal antara lain yaitu memiliki kasih sayang dan lemah lembut, tidak mengharap upah yang terlalu berlebihan, tidak mengharapkan pujian, ucapan terima kasih atas balas jasa, harus bersikap jujur dan dipercaya oleh murid-muridnya, mampu membimbing dengan penuh perhatian dan kasih sayang, tidak dengan kemarahan, memiliki budi luhur dan punya toleransi, tidak merendahkan ilmu lain di luar spesialisasinya, memperhatikan perbedaan individu.

Albert Enstain ilmuwan dunia yang sangat populer dan merupakan GURU BESAR ahli Fisika yang terkenal dengan Teori Relativitas dan Teori Mekanika Quantum, pernah berkata, “Seni tertinggi seorang guru adalah untuk membangkitkan kegembiraan dalam ekspresi kreatif dan pengetahuan”.

Mengajar merupakan seni yang bisa membangkitkan kegembiraan, menciptakan susana tenang dan senang. Bukan sebaliknya hanya menciptakan suasana tegang dan penuh tekanan.

Mendidik adalah pekerjaan yang membutuhkan kreativitas dan tentu diharapkan bisa mengembangkan pengetahuan peserta didik.

William Arthur Ward, seorang penulis dan motivator ternama asal Amerika meyebutkan empat tipologi guru yaitu Guru biasa-biasa saja hanya bisa menceritakan, Guru yang baik mampu menjelaskan, Guru yang unggul mampu menunjukkan dan Guru yang hebat memberikan inspirasi dan bisa menjadi inspirator dalam dunia pendidikan.

Penghargaan dan kebanggaan terhadap profesi guru dalam dunia pendidikan tinggi telah diabadikan dengan sebutan gelar pangkat akademik tertinggi (paripurna) bagi seorang dosen yaitu Guru Besar (Profesor).

Semoga peringatan hari Guru selalu menjadi moment yang tepat untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri agar ke depan kualitas pendidikan dan nasib pendidik (Guru) akan menjadi lebih baik sesuai harapan kita semua.

Selamat Hari Guru.

Penulis: Dosen Senior dan Ketua Senat Dosen FKIP UNTAD, Mantan Ketua Forum Dosen Indonesia (FDI) Sulawesi Tengah 2017-2020, Alumni Masters dan PhD dalam bidang Language Policy and Education pada Faculty of Education, Humanity, Law and Theology (EHLT), Flinders University of South Australia