Oleh : Yvonne F.Noya S. *)

Tanggal 15 Oktober 2019, Merdeka.com, menyajikan tulisan Sepuluh Desa terindah di Dunia, Dua ada di Indonesia menyatakan; Siapa bilang Desa itu membosankan? Desa kerap diindentikan dengan kesan kuno, membosankan, atau tak tersentuh kecanggihan teknologi. Tetapi lain ceritanya kalau mampir di desa-desa terindah di dunia.

Tahun 2020, sebelum covid 19 menerjang hampir seluruh penjuru dunia yang meluluh lantakkan sendi-sendi kehidupan manusia, penulis bersama beberapa teman, berkesempatan mengunjungi dua diantara sepuluh desa terindah di dunia, masing-masing Desa Penglipuran di Bali Indonesia dan Desa Hallstatt di Austria.

Tulisan ini adalah sebuah kesan perjalanan singkat dan tidak bermaksud membandingkan apple to apple antara kedua desa tersebut, namun penulis ingin mengungkapkan nuansa-nuansa bening yang berkembang alamiah nan elok diantara dua desa tersebut.

Tentu saja terdapat berbagai perbedaan pada dua desa yang indah itu dalam banyak hal seperti; budaya, sistem sosial, dan lain-lain, bahkan latar belakang sejarah, karena keduanya dipisahkan oleh samudera dan berada di negara dan benua yang berbeda, namun tetap saja menarik untuk di kunjungi.

Desa Penglipuran.
Berjarak lebih kurang 45 km dari Kota Denpasar ibu kota Provinsi Bali, atau 5 km dari Bangli kita dapat mencapai Desa Adat Penglipuran, desa wisata pertama di Indonesia yang terletak di kaki gunung Batur. Menyaksikan keindahan Desa Penglipuran, seolah kita memasuki sebuah miliu baru, berbeda dari keseharian yang dialami masyarakat saat masa kini, karena keindahannya sangat mengagumkan. Selain bersih, pemukiman yang tetap mempertahankan adat tradisi dan kelestarian lingkungan, laksana surga bagi para pencinta ketenangan untuk melepaskan diri dari kebisingan atau hiruk pikuk yang menjadi rutinitas hidup masyarakat modern. Keramah tamahan penduduknya adalah sebuah keniscayaan yang sangat mengagumkan sehingga memposisikan Desa Adat Penglipuran sebagai kawasan wisata sangat populer di Indonesia maupun manca negara. Penglipuran sebagai Desa Adat, terus berupaya mempertahankan adat dan tradisinya termasuk bangunan tradisionalnya sebagai cirikhas. Dengan dibentengi kawasan hutan bambu seluas 75 ha dan 10 ha vegetasi terawat, adalah kawasan yang amat mengagumkan dan ideal bagi wisatawan bila ingin hidup menyatu dengan alam menikmati anugerah Sang Pencipta sejalan dengan jargon Back to Nature.


Nama Desa Adat Penglipuran makin menyeruak kebelantika obyek wisata tatkala dianugerahi penghargaan Kalpataru th.1995 atas usahanya melindungi hutan bambu di ekosistem lokal mereka. Berjalan menjelajahi tapak demi tapak Desa Adat Penglipuran, sangatlah nyaman sebab bebas dari polusi kendaraan bermotor. Karena kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat tidak diizinkan lalu lalang melintasi Desa Penglipuran. Namun wisatawan tidak perlu khawatir bila berkunjung dengan kendaraan bermotor karena pemerintah desa telah menyiapkan lokasi khusus parkir kendaraan. Keunikan lain yang tidak terdapat di desa lain adalah keseragaman di bagian depan rumah warga dari hulu sampai hilir desa. Aspek lain yang menarik karena spesifik dari penataan desa yakni adanya lorong dari satu rumah ke rumah yang lain yang saling berhubungan sebagai tanda keharmonisan kehidupan masyarakat Desa Adat Penglipuran.

Berkunjung ke Penglipuran, adalah suatu kenikmatan tersendiri dimana wisatawan akan bertemu dengan wisatawan lokal maupun mancanegara, berbaur dengan tujuan masing-masing. Dari yang ingin menikmati Penglipuran sebagai desa adat, ketahanan budaya, system social, hingga sistem kekerabatan, serta pelestarian lingkungan adalah obyek yang tak pernah kering menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Disisi lain tidak kalah menariknya adalah pemandangan anak muda yang secara berkelompok maupun sendiri-sendiri dengan ceria dan bersemangat menikmati keindahan dan kesyahduan desa Penglipuran.

Bahkan nampak pasangan muda sedang mengabadikan cinta mereka yang akan dipatri dalam ikatan pernikahan dalam bentuk foto pre weding dengan latar belakang beberapa gadis dan pemuda berpakaian adat Bali. Semua aktifitas berjalan tertib, tenang, bahkan romantis membuat keindahan penglipuran makin menonjol, spesifik, dan menarik.

Menjelang akhir kunjungan di desa Penglipuran, penulis dengan mudah mencari tempat istirahat sejenak, untuk melemaskan otot betis mengatasi kelelahan dan membasahi tenggorakan. Tanpa kesulitan berarti, warung atau kedai dapat ditemukan di sepanjang jalan desa.

Deretan rumah-rumah yang berjejer rapih dengan arsitektur tradisional ternyata juga berfungsi ganda sebagai penginapan, warung/rumah makan bahkan menyediakan souvenir termasuk minuman tradisional loloh cemcem yang rasanya campur aduk manis, sedikit asam, berbaur menjadi satu. Harganyapun relative terjangkau dalam satu botol 600 ml di bandrol Rp5000,- .

Didepan sebuah rumah muncul seorang ibu paru baya dengan logat Bali yang kental dan ramah mengajak kami mampir ke rumahnya yang juga berfungsi sebagai kedai/warung untuk istirahat sejenak. Sambil duduk menikmati keindahan arsitektur rumah tradisional Bali kami ditawari oleh sang ibu untuk menikmati buah Durian hasil desa Penglipuran.

Dengan cekatan sang ibu membelah buah durian dan disuguhkan kepada kami dengan harga yang relatif terjangkau. Adalah pengalaman yang luar biasa pada moment tersebut, selain nikmatnya buah durian, sikap dan perilaku sang ibu adalah sebuah cermin bening dari masyarakat Penglipuran sebagai tuan rumah yang baik bagi wisatawan saat berkunjung. Sebuah contoh kecil saat kami memilih durian dan dipandu dengan sabar oleh sang ibu untuk menemukan buah durian yang terbaik. Tentu untuk mencari yang baik bukan yang mentah apalagi rusak, sebuah sikap luhur dengan mengedepankan kepuasan pelanggan adalah bentuk istimewa dari promosi wisata. Perilaku yang ditunjukan oleh figure ibu penjual durian di desa Penglipuran dilandasi keyakinan tentang adanya Karma.

“Saya tidak ingin terkena Karma, karena memberi pilihan yang salah kepada tamu” pungkasnya dalam logat Bali yang kental sembari tersenyum. Selanjutnya sang ibu berkata ibu datang lagi ya akhir tahun nanti ada acara Festifal Desa Penglipuran, sambil melafalkannya dalam bahasa Inggeris Penglipuran Village Festival. Sikap yang ditunjukan sang ibu patut diacungi jempol karena kejujuran yang sekaligus menjadi promosi gratis dan luar biasa untuk menarik lebih banyak lagi wisatawan berkunjung ke Desa Adat Penglipuran.
Banyak hal-hal positif dari masyarakat Penglipuran maupun prestasi yang dicapai termasuk keindahan, kearifan lokal masyarakatnya, namun tidak semuanya bisa dikunjungi dan ditelusuri, karena waktu yang membatasi kami untuk menjangkaunya.

Desa Hallstatt
Desa Hallstatt terletak di daerah pegunungan wilayah Salzkammergut Austria, mencakup danau indah Hallstatter See, adalah salah satu pemukiman tertua di Benua Eropa. Desa terindah, karena panoramanya yang menawan, bersih, rapih dan memikat, serta didukung oleh pemandangan danau yang luar biasa, laksana sebuah desa dongeng melankolis yang terpapar pada sebuah lukisan raksasa nan elok memukau.

Pantaslah bila beredar cerita bahwa berkunjung ke Desa Hallstatt pasti merasa betah dan ingin berlama-lama karena keindahan yang bersumber dari perpaduan keindahan danau, suasana, keramahan masyarakatnya, panorama rumah-rumah penduduk dengan cirikhas Alpen, yang dibangun sejak abad ke-16 telah membawa Hallstatt menjadi salahsatu Desa terindah di Dunia.

Selain memiliki pemandangan memukau, wilayah Hallstatt juga masuk dalam daftar UNESCO World Haritage Site. Banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi, karena didukung oleh sikap masyarakatnya yang selalu siap memberikan informasi kepada wisatawan.

Populeritas desa kecil ini makin meningkat, sejak disebut-sebut sebagai salah satu inspirasi dari film animasi Frozen tahun 2013. Semenjak itu kunjungan wisatawan dalam setahun bisa mencapai satu juta orang. Fantastis memang, bahkan kabarnya sempat terpikir oleh sebagian warga Hallstatt untuk mengurangi kunjungan wisatawan, namun tidak menemukan cara untuk melakukannya.

Mengunjungi Hallstatt, banyak menawarkan aktifitas di alam terbuka seperti memancing, atau menyelam. Bahkan untuk mengunjungi obyek yang menarik, dapat dilakukan dengan menyewa sepeda dan tersedia jalur khusus yang tidak mengganggu pejalan kaki atau kendaraan lain. Cara lainnya dengan menyewa kapal kayu tradisional, kapal pedal, atau kapal electric, karena perahu bermotor tidak diizinkan.

Tatkala kami berkunjung ke Hallstatt di awal bulan Maret 2020, dimana terjadi peralihan musim dingin ke musim semi, saat salju mulai mencair, walau di beberapa tempat di pegunungan dan lereng-lerengnya, salju masih nampak putih berkilauan menambah indahnya Hallstatt di siang hari tatkala diterpa mentari. Kilauan salju nampak bagaikan mutiara yang tertata rapih dengan memantulkan cahaya luar biasa indahnya bahkan membius pengunjung. Suasana makin mempesona ketika perjalanan dilanjutkan melalui rumah-rumah tradisional/kastil tua peninggalan abad ke-16 dengan balkon terbungkus bunga, toko dan café bertingkat berbaris persegi adalah pemandangan yang membawa pada suasana nyaman dan mempesona, memanjakan mata serta menyejukan hati.
Masih dengan bangunan lama, salahsatu kawasan spot foto yang populer adalah Evangelical Church of Christ yang kerap menjadi salah satu focus panorama alam Hallstatt karena letaknya berada di tepi Danau. Bangunan ini pertama kali dibuat pada tahun 1785 sebagai rumah doa Protestan satu-satunya yang ada di sana, dan penulis menyempatkan diri masuk untuk berdoa agar semua rencana perjalanan di Eropa Timur lancar dan tiba kembali di Indonesia dengan selamat. Meski waktu untuk berkunjung di Hallstatt terbatas, namun panorama Desa Hallstatt dengan danaunya, tak lepas dari pandangan mata penulis yang menginap di Haritage Hotel. Keindahan Hallstatt seakan tak henti memberi rasa takjub, istimewa, dengan sentuhan modernitas, namun tradisi tetap teguh terjaga membuat kenyamanan itu sempat membuai dan melupakan rasa takut pada sergapan covid 19 yang mulai mengganas.
Kesan berkunjung ke Hallstatt, sangat bermakna karena desa ini menyambut tamu dan menyalami dengan sorotan budaya yang sarat tradisi. Hallstatt memang tempat ideal untuk beristirahat, menjelajah dan bersantai, sama dengan kesan di desa Penglipuran Bali, dua-duanya penuh dengan inspirasi bahwa kemajuan untuk menjadi modern tidak harus melepaskan tradisi dan kearifan lokal sebagai ciri dan identitas diri……. Be your self.

*) Penulis adalah Pensiunan Pegawai Bank Indonesia &
Pengurus Dharma Wanita Persatuan Pusat periode 2014-2019.