Laporan: Rahmat Pratama

Pasangkayu, 50detik.com– Thamrin Endeng termasuk salah satu ‘pelaku sejarah’ kelahiran Kabupaten Mamuju Utara (sekarang Pasangkayu).

Perannya cukup penting dalam mendorong percepatan lahirnya Daerah Otonomi Baru (DOB) Pasangkayu, karena lewat tangannya palu sidang DPRD Mamuju – sebagai kabupaten induk berhasil diketuk untuk melahirkan rekomendasi pemekaran Kabupaten Pasangkayu, karena posisinya kala itu sebagai Ketua DPRD Mamuju.

Percepatan itu, tentu didasari ‘ruh’ semangatnya sebagai putra daerah Pasangkayu, yang berharap kelak tanah leluhurnya menjadi daerah yang berkembang dan maju pesat dari sebuah daerah terisolir dari jantung ibukota provinsi, karena untuk menjangkau daerah tersebut, cukup dengan jalur laut yang hanya dapat dijangkau sehari semalam dengan kapal motor.

Impian Thamrin ‘sang mentor’ itu akhirnya terwujud setelah lima belas tahun perjalanan politik di kabupaten paling utara daerah Sulawesi Barat, tiga fase kepemimpinan yang berganti, Pasangkayu makin berdiri kokoh dengan beragam investor masuk dan masih akan menyusul yang lain, sehingga butuh figur yang bisa memahami marwah pembangunan berpihak rakyat.

Thamrin tampaknya melihat Pasangkayu masih butuh polesan ‘tangan terampil’ untuk memajukan daerah yang memilik butiran emas dan endapan minyak di perut bumi serta kekayaan alam lainnya disektor perkebunan dan kehutanan.

Karena itu politisi yang gagal menuju senayan dari perseorangan itu, setelah mundur terhormat dari partai Golkar yang sempat membeserakan namanya dan hingga bertengger di posisi top leadher Parlemen Mamuju, memilih ‘kembali pulang kampung’ untuk mengabdi membangun tanah leluhurnya.

Untuk menggapai mimpinya itu, ia kini ‘turun gunung’ membangun narasi kemanusiaan dengan masyarakat Pasangkayu, dan berharap kelak ada partai tertarik untuk mengusungnya.

Progres Thamrin untuk membangun komunikasi politik dengan semua pihak, bukanlah sesuatu yang sulit, karena ia termasuk sosok yang sudah kenyang dengan pengalaman politik, bahkan bisa disebut sebagai ‘mentor’ sejumlah politisi yang ada di Mamuju.

Memastikan satu kendaraan politik menuju Pilkada Pasangkayu 2020, ia kemudian mencoba ‘merangkul’ Arman Salimin selaku kader PAN untuk bersama membangun Pasangkayu, terlebih lagi Arman dinilai punya basis massa di Pasangkayu, dengan keberhasilannya bertahan di Parlemen Sulbar selama dua periode, meski periode 2019-2024 gagal mengulang kesuksesannya dua periode sebelumnya. Tapi setidaknya Arman bisa punya ‘kekuatan’ untuk merangkul konstituennya yang loyal dan bisa membangun komunikasi dengan DPP PAN yang sudah punya modal dua kursi, tinggal ‘merangkul’ beberapa  partai lagi untuk koalisi.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here