Penulis: Sakkirang
(Staf Umum dan Humas Perwakilan BKKBN Sulteng)

DALAM beberapa bulan terakhir bergulir istilah-istilah baru yang begitu masif baik melalui media massa maupun media sosial sebagai dampak dari merebaknya virus Wuhan (China) atau yang termahsyur dengan nama besar dan menakutkan virus corona. Tentu Anda sangat familier dengan kata Wuhan, sebuah kota di China yang merupakan “tanah kelahiran” virus Corona.
Selanjutnya istilah-istilah covid-19 (corona virus disease 2019), lockdown, social distancing (menjaga jarak sosial), orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pemantauan (PDP), positif, negatif, physical distancing (pembatasan fisik), orang tanpa gejala (OTG), isolasi, karantina, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), zona merah, zona hijau, zona kuning, zona hitam, dan istilah lainnya.

Sebagian istilah baru, adalah berbentuk kebijakan misalnya PSBB atau karantina, serta kebijakan lainnya di bidang transportasi, pariwisata, keuangan, dan sebagainya. Mungkin menarik untuk diteliti bahwa untuk pertama kalinya, sebuah negara melahirkan banyak kebijakan dalam tempo cepat (1-2 bulan) dan harus dipatuhi warganya jika ingin selamat.

Sekarang muncul lagi istilah baru dan viral “New Normal”, setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan masyarakat harus bisa berkompromi, hidup berdampingan, dan berdamai dengan covid-19 agar tetap produktif.

New normal diterjemahkan Badan Bahasa Kemdikbud, yaitu kenormalan baru. Mengutip Kompas.com (18/5/2020), Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menegaskan, istilah new normal lebih menitikberatkan perubahan budaya masyarakat untuk berperilaku hidup sehat yang dibidang Kesehatan dikenal dengan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), tetap memakai masker keluar rumah, mencuci tangan pakai sabun, dan potokol covid-19 lainnya.
Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita, menyebutkan bahwa new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan, new normal lebih menekankan kepada kesiapan individu terhadap aktivitas di luar rumah meski virus corona SARS-CoV-2 – penyebab Covid-19 – belum lenyap sekali pun (Kompas.com 29 Mei 2020).

Tapi saya tidak akan mengajak Anda berselancar pada pengertian New Normal. Kata New Normal mungkin masih awam, walau sebelumnya konsep ini sudah pernah dilakukan meski konteksnya berbeda. Misalnya, ketika merebaknya isu terorisme di Indonesia maka tempat-tempat umum seperti hotel, mal, bandara, dan sebagainya menerapkan new normal sesuai tandar keamanan. Yaitu, ketika masuk mal maka ada pemeriksaan tas, Ketika di masuk hotel ada pemeriksaan kendaraan, ketika dibandara wajib melepas rim, dan sebagainya.

Nah, dari penjelasan mengenai New Normal di masa pandemi virus korona maka terlihat jelas bahwa New Normal bukan Old Normal (kenormalan lama). Artinya jangan lantas gembira bahwa seolah kehidupan akan kembali benar-benar normal seperti sedia kala melainkan bagaimana hidup berdampingan dengan virus korona dengan cara menerapkan perubahan gaya hidup baru sesuai standar protokol pencegahan covid-19.

Orang bijak bilang yang lalu biarlah berlalu. Sebab hidup harus berjalan. New Normal adalah sebuah kehidupan benar-benar baru. Jangan mengulang kehidupan masa lalu karena itu akan membahayakan diri dan keluarga anda. Sebab covid-19 tidak benar-benar pergi dari lingkungan kita. Gaya hidup kita di New Normal yaitu tetap menggunakan masker, menjaga jarak aman, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, jangan keluyuran kemana-mana, dan hindari kerumunan. Tentu ini tidak mudah namun harus dibiasakan dan mulailah dari keluarga.

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-isteri, atau suami, isteri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya (UU RI No.52 Tahun 2009 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga).

Keluarga sangat menentukan penerapan konsep New Normal. Ibarat sebuah tatakrama maka tatanan hidup New Normal harus dibangun dan dibiasakan dari keluarga tentu saja dimulai dari ayah/ibu. New Normal bisa menjadi bom waktu untuk pandemi covid-19 jilid 2, jika keluarga gagal memahaminya.

Saatnya menerapkan protokol 8 (delapan) fungsi keluarga. Terlebih di masa pandemi covid-19, keluarga lebih banyak berkumpul dan berdiam di rumah. Inilah protokol 8 fungsi keluarga, yaitu:
1. Fungsi agama
Keluarga menjadi wahana pertama dan utama mengajarkan tentang tauhid, mengajarkan hubungan dengan penciptanya diantaranya melaksanakan ibadah dengan penuh keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Keluarga mengajarkan tentang hubungan dengan sesama. Orang tua mengajarkan, mempratekkan, dan memberikan contoh kepada anggota keluarga segala bentuk ibadah dan bagaimana menyikapi covid-19 dari sudut pandang agama. Saatnya, orang tua menjadi aktor utama dalam menanamkan sifat kejujuran, kesabaran, kependualian, bersyukur, dan sebagainya. Keluarga pula yang mengajarkan tentang hubungan manusia dengan lingkungannya.

2. Fungsi sosial budaya
Menfungsikan keluarga sebagai “taman budaya” untuk mengajarkan dan mempraktekkan budaya-budaya luhur seperti gotong royong, sopan santun dalam pergaulan, nilai-nilai kebangsaan, bertoleransi, dan hidup rukun. Bagaimana bergaul di masa new normal seperti mempraktekkan salam korona tanpa bersentuhan.

Salam korona sangat penting diajarkan karena selama ini anak-anak terbiasa salam dengan bersentuhan yang kemudian mencium tangan. Kebiasaan ini harus di rubah bahwa selama masa pandemi covid-19 menghindari bersentuhan alias social distancing, dan physical distancing, namun tidak mengurangi hubungan silaturahmi.
Mengajarkan kepada anggota keluarga menggunakan masker yang benar, dan sebagainya sehingga keluarga dan orang lain di sekitar terhindar dari virus corona.

3. Fungsi cinta kasih dan sayang
Mengfungsikan keluarga sebagai wahana pertama dan utama menumbuhkan perasaan cinta, kasih, dan sayang antar sesama anggotanya, antar orang tua dengan pasangannya, antar anak dengan orang tua, dan sesama anak sendiri.

Mengajarkan anggota keluarga menjadi individu pemaaf dan memaafkan, punya rasa simpati, menumbuhkan empati, membangun kesetiaan, dan keberanian bertanggung jawab sehingga terbangun ikatan yang kuat.

Di masa New Normal karekter di atas tetap diajarkan tapi dengan cara yang berbeda. Misalnya, jika anak-anak terbiasa cium pipi dengan orang tua maka mungkin saat ini cukup dengan Bahasa simbol tertentu yang bisa dipahami bersama demi menjaga keselamatan keluarga.

4. Fungsi perlindungan
Keluarga sebagai perisai utama yang kokoh sehingga anggota keluarga merasakan aman dan nyaman. Mengajarkan anggota keluarga bagaimana melindungi diri masing-masing dari virus korona.

Memberikan pemahaman yang benar bagaimana pencegahan dan bahaya virus korona sehingga anggota keluarga merasa aman dan nyaman. Jika semua anggota keluarga merasakan aman dan nyaman maka tentu saja akan tercipta keharmonisan dan kebahagiaan. Jadikan keluarga Anda sebagai taman terindah untuk pulang dan berkeluh kesah. Jangan pulang dan berkeluh kesah kepada tetangga.

5. Fungsi reproduksi
Keluarga merupakan tempat terbaik dan mendapatkan hak untuk merencanakan dan melanjutkan keturunan (reproduksi).

Setiap keluarga tentu ingin mempertahankan kelangsungan hidup dan meneruskan garis keturunannya.

Melahirkan generasi yang sehat secara mental dan fisik sehingga pada akhirnya mewujudkan generasi yang berkualitas.

Namun di masa pandemi covid-19, jika mempunyai keinginan untuk mempunyai anak maka seyogyanya ditunda dulu. Sebab ibu-ibu sangat rental alias sangat berisiko jika hamil di masa pandemic korona.

6. Fungsi sosialisasi dan pendidikan
Sejatinya guru dan sekolah pertama dan utama adalah keluarga. Bukan guru dan sekolah yang ada diluar keluarga.

Keluargalah yang menempah calon generasinya. Kita harus pahami bahwa setiap anak lahir ke dunia ibarat kertas putih kosong dan kelak orang tuanya/orang dewasa yang akan melukiskan warna dalam hidupnya.

Ibarat sebuah kanvas maka pelukislah yang akan menentukan indah tidaknya sebuah lukisan. Jadi, sungguh sebuah kekeliruan bahwa jika anak-anak bermasalah secara mental atau fisik maka yang disalahkan guru atau sekolahnya. Guru dan sekolah diluar hanya menambahkan apa yang sudah ditanamkan orang tua sejak awal.
Keluarga merupakan oase ilmu pengetahuan yang tidak pernah kering untuk memenuhi dahaga anak-anaknya tentang membaca, menulis, berhitung (calistung), mengajarkan keterampilan dan semua pengetahuan lainnya sehingga melahirkan generasi unggul dalam peradabannya namun tidak kehilangan jati diri.

Apalagi di masa pandemi covid-19, orang tua benar-benar menjadi guru terbaik bagi keluarga. Anak-anak harus tetap diarahkan untuk mengekplor dirinya agar tetap kreatif dan inovatif sehingga mampu mengusir rasa bosan tetap di rumah.

7. Fungsi ekonomi
Ketika memutuskan untuk berkeluarga berarti seseorang telah menyiapkan diri untuk hidup mandiri dan memenuhi segala kebutuhan diri dan keluarganya terlepas dari kedua orang tua yang telah membesarkan. Minimal sudah mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan.

Di masa pandemi covid-19, saatnya keluarga berhemat dan mempunyai perencanaan keuangan yang baik. Sebab ibu/bapak tidak leluasa untuk mencari nafkah.

8. Fungsi lingkungan
Setelah sebuah keluarga mampu mempraktekkan 7 (tujuh) fungsi keluarga di atas maka fungsi terakhir adalah fungsi lingkungan. Keluarga harus menjaga keseimbangan lingkungan antara lain mengajarkan anak-anak untuk melestarikan lingkungan. Tanamkan kesadaran pentingnya melestarikan lingkungan sejak dini.

Misalnya memakai masker dan membiasakan mencuci tangan dengan sabun maka akan menyelematkan anak-anak dari virus korona. Mengajarkan menanam pohon dan tidak membuang sampah di sembarang tempat.

Di sisi lainnya, jika terjadi keseimbangan lingkungan maka akan terhindar dari bencana seperti banjir, tanah longsor, dan sebagainya. Jika kebiasaan baik diajarkan sejak dini maka akan menjadi budaya dalam kehidupan anak-anak hingga tua kelak.

Dengan lebih banyak di rumah, inilah momen yang tepat untuk mempraktekkan model 8 (delapan) fungsi keluarga. 8 Fungsi keluarga merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan orang tua dalam membantu pembentukan karakter anak sehingga memiliki kepribadian yang matang. ***