Melihat Ikon Vova Sanggayu Di Atas Masjid Terapung

Gambar: pohon bakau sekarang yang tumbuh di Anjungan Pasangkayu, (50detik.com/Ist)

Semua tempat memiliki potensi, sama halnya, Vova Sanggayu, yang merupakan sebatang pohon bakau, ‘Pohon Penyelamat’ petunjuk nelayan. Kini menjadi  ikon asal muasal Kabupaten Pasangkayu.

Penulis: Darmawan

Vova Sanggayu salah satu objek wisata yang berada diujung barat  Pantai Anjungan Pasangkayu. Kerennya, Ikon ini, anda bisa saksikan dengan detail di atas Masjid Terapung.

Konon, sebatang kayu bakau ini, dijadikan sebagai ‘penyelamat’ petunjuk arah, para nelayan agar  tidak salah tujuan (kesasar) di Laut Pasangkayu.

Potensi itu, bisa terlihat diatas Masjid Terapung. Disana, anda  akan dimanjakan keindahan panorama  pantai dengan pohon penyelamat itu.

Meski ombak terus menghantam, pagi hingga sore hari. Tetapi, pohon petunjuk itu, tetap tumbuh sebagai pemandu nelayan.

Landscape Vova Sanggayu Yang dibangun pemerintah pasangkayu (Ist)

Sebatang pohon bakau itu dikenal dengan sebutan Vova Sanggayu. Kini mulai dikenal luas, setelah pemerintah daerah membangun landscape bertulis  Vova Sanggayu.

Landscape ini, bisa dilihat dan ditempati swa poto saat melintas  di jalan Moh. Hatta, tepatnya depan Kantor pengadilan Agama Pasangkayu.

Kata Vova Sanggayu, diambil dari Bahasa kaili, salah satu etnis yang mendiami wilayah tersebut, Vova Sanggayu ini, diyakini bisa menjadi daya tarik wisatawan dari luar untuk berkunjung ke kesana.

Nah, bagi anda yang penasaran dengan ikon wisata  yang satu ini. Yuk, jalan-jalan kabupaten paling utara Sulbar, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Pemandangan Pohon Bakau dari atas Masjid Tertapung Pasangkayu (Darmawan)

Letak ikon Vova Sanggayu yang strategis, berada tepat  di pusat keramaian, pantai anjungan pasangkayu, berdekatan dengan Masjid Terapung, hanya berjarak sekitar 130 meter dari Masjid Terapung. Cocok menjadi referensi untuk melepas penat setelah kerja.

Panorama alamnya yang indah, memanjakan mata pengunjung. Maka, tak lengkap rasanya ketika datang kesana tidak mengabadikan foto dengan angle Vova Sanggayu sebagai asal muasal Kabupaten Pasangkayu.

Pengunjung tak hanya akan tersohor dengan keindahannya, di lokasi ini pula, anda akan menjumpai fasilitas olahraga seperti basket ball, ayunan serta permainan anak-anak dan lainnya.

Ketika lelah, tak usah bingung, di tempat ini juga terdapat beberapa warung dan cafe yang menjajakan berbagai macam kuliner dan minuman.

Di sekitaran Masjid Terapung, terdapat tugu Burung Maleo, endemik yang dilindungi, habitatnya masih ada di bumi Vova Sanggayu. Tak hanya itu, disana akan melihat  tugu udang, menggambarkan Pasangkayu sebagai penghasil udang.

Untuk sampai ke Vova Sanggayu, dari jalan poros, tepatnya tugu sawit hanya berjarak sekitar 1,7 kilo  meter, atau jarak tempuh perjalanan kendaraan motor sekitar 4 menit. Tugu itu dibangun mempertegas daerah ini sebagai penghasil  komoditi sawit.

Diatas Masjid Terapung, anda akan melihat pantai selat makassar, pegunungan dengan  dua bangunan, Rujab Bupati dan Wakil Bupati Pasangkayu, seolah menegaskan dititik berdiri saat ini merupakan titik tepat.

“Vova Sanggayu berasal dari bahasa kaili. Vova artinya Pohon Bakau sedangkan Sanggayu artinya sebatang pohon” Kata Yunus Alsam, penulis Napak Tilas Terbentuknya Pasangkayu.

Menurutnya, sebatang pohon kayu bakau yang tumbuh di Pantai Anjungan Pasangkayu itu, merupakan petunjuk, pedoman dan pengarah para nelayan kala itu, sebelum menjadi daerah otonomi baru di Sulbar pada tahun 2003.

Sebatang pohon yang usianya diperkirakan ratusan tahun itu telah ditebang, namun yang tumbuh saat ini, adalah anak dari pohon yang dipercaya melayan kala itu sebagai petunjuk.

“Sebatang pohon bakau itu, memiliki ketinggian sekitar  50 meter hingga menjadi petunjuk sekaligus tempat bersandarnya perahu dan dikenal Pelabuhan Mangindano kala itu”Kata Yunus Alsam

Menurutnya,  dikatakan pelabuhan Mangindano?. Konon Mangindano ini berasal dari kata Mindanao, karena nelayan Mindanao Filipina sering singgah disini. Namun orang Pasangkayu sulit menyebut Mindanao. Sehingga disebut Mangindano.

Sama juga halnya penyebutan kabupaten ini, Karena tidak bisa menyebut Vova Sanggayu kemudian diluruskan menjadi Pasangkayu.

“Di bawa pohon bakau itu, terdapat karang dan air tenang di daerah itulah kemudian menjadi tempat persinggahan pelaut sulawesi, Tanah Kaili yang melintas Di pantai Pasangkayu”Sebutnya.

Ikon ini memiliki potensi besar, sebab nama Vova Sanggayu yang terdengar unik, akan menjadi daya tarik bagi wisatawan dari luar untuk datang ke pasangkayu.

Objek wisata ini harus ditata, guna memberi daya tarik pengunjung untuk datang,  karena suasananya sangat indah seperti pantainya, pegunungannya dan ikon Masjid terapung yang hanya ada di Pasangkayu, Sulbar.

Nama Vova Sanggayu ini perna diangkat menjadi judul buku, oleh Budayawan Sulbar, Bustan Basir Maras, judulnya:   Vova Sanggayu, 101 Puisi Etnografi. Salah satu isi puisinya (halaman 28) yaitu: dengan judul puisi Muasal  Pasangkayu. isi puisinya: dari peram rindu nestapa sejarah laut meluap berlayarlah perahu ke bibir senjata Jung daratan menyelam ke rahang karang dan ombak sepohon bakau menjadi saksi dan penat para nelayan mendendangkan nasib  merapalkan Vova Sanggayu.

Menurutnya, banyak di daerah lain, di luar sulawesi yang mengembangkan kearifan lokal dengan mitosnya. Sebut saja Bali dan Yogyakarta. Di Yogyakarta, ada alun-alun selatan, disana terdapat dua beringin dan di Magelang ada Candi Borobudur

“Kalau anda perna Yogya, anda akan datang ke alun-alun selatan. Disana ada dua pohon beringin, lalu anda akan datang disitu, menyewa satu penutup mata 10 ribu rupiah untuk melewati pohon beringin, jika bisa melewatinya, hidup anda akan  diberkahi tuhan. Lho kalau 1000 orang yang masuk, kira kira pemasukan pasangkayu sudah berapa?.

Contoh lain, anda datang ke Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah siapa yang bisa memegang dahinya  si budha (Sidharta Gautama) hidupnya akan diberkati.

Semua orang sudah membangun mitosnya masing-masing. Kenapa pasangkayu tidak membangun mitosnya Vova Sanggayu. Vova Sanggayu itu, sangat bagus dan hanya ada di Pasangkayu. Mengapa potensi ini tidak dikembangkan?.

“Kita tidak bisa menjual pintu gerbang,  jalannya mulus dan bandara. Yang dijual itu, apa poin yang mau di jual, agar tertarik datang ke Pasangkayu. Orang datang ke bali, karena orang bali masih membakar dupa”Tegasnya.

Inilah salah satu alasan  Vova Sanggayu ini diambil  menjadi judul buku puisi, karena menarik. Faktanya, saat buku Vova Sanggayu 101 Puisi ini dibedah di Kota Palu, Sulteng. ada yang menyebut Vova itu cara menyebutnya. Dari itu saja, orang sudah berdebat inilah kemudian yang akan menjadi alasan orang mau datang ke pasangkayu.(*)

Pos terkait