50detik.com–Aku sedang membersihkan rumah, tiba-tiba anak lelakiku yang masih kecil berlari ke arahku. Dia tersenggol satu pot bunga yang terbuat dari kaca. Pecah hancur berantakan.

Aku benar-enar marah karena pot itu memang mahal harganya. Tanpa ku sadari, aku telah melontarkan kata-kata. “Matilah kamu! Semoga kamu ditimpa dinding bangunan dan tulang-belulangmu hancur!”

Tahun demi tahun berlalu. Anak lelakiku membesar, aku sudah lupa akan doa itu. Aku pun tak anggapnya penting dan aku tak tahu bahwa doa itu telah naik ke langit.

Anak lelakiku dan adik-adiknya yang lain tumbuh besar. Dia anak sulung yang paling aku sayangi dari anak-anakku yang lain. Dia anak yang rajin dan pandai menghormati aku dan berbakti kepadaku dibandingkan adik-adiknya yang lain.

Kini dia telah menjadi seorang insinyur. Tak lama lagi dia akan menikah. Tak sabar rasanya aku ingin menimang cucu.

Ayahnya punya sebuah bangunan yang sudah lama dan ingin direnovasi. Maka pergilah anakku bersama ayahnya ke gudang itu. Para pekerja sudah bersiap-siap untuk merobohkan satu dinding yang sudah usang.

Sementara pekerja sudah bekerja, anakku pergi ke belakang bangunan tanpa diketahui oleh siapa pun. Dengan tak disangka-sangka dinding bangunan itu roboh menimpanya!

Terdengar suara berteriak dalam runtuhan itu hingga suaranya tak kedengaran lagi.

Semua pekerja berhenti. Heran suara siapa? Mereka berlari ke arah reruntuhan itu. Mereka mengangkat dinding yang menghimpit anakku dengan susah payah dan segera memanggil ambulan.

Mereka tidak dapat mengangkat badan anakku. Ia remuk seperti kaca yang jatuh pecah berkeping-keping.

Sebagian mereka mengangkat badan anakku yang hancur dengan hati-hati dan segera membawanya ke UGD di RS.

Ketika ayahnya menghubungiku, seakan Allah menghadirkan kembali kata-kataku padanya semasa ia masih kecil dulu.

Aku menangis hingga pingsan, setelah aku sadar, aku berada di RS dan aku meminta untuk melihat anakku. Ketika melihatnya, aku seakan mendengar suara yang berkata,

“INI DOAMU KAN? Sudah AKU kabulkan! Setelah sekian lama engkau berdoa, sekarang Aku akan mengambilnya!”

Ketika itu, jantungku seakan berhenti berdetak. Anakku menghembuskan nafasnya yang terakhir. Aku berteriak dan menangis sambil berkata,

“Ya Allah! Selamatkanlah anakku! Jangan pergi nak..”

Seandainya, lidah ini tidak mendoakan kejelekan 25 tahun yang lalu…!
Andaikan..! Andaikan..! Andaikan..! Tetapi kalimat ‘andaikan’ ini tak berguna lagi sekarang ini..

Cerita ini dari satu kisah nyata! Pesanku pada para IBU. Jgn sekali-kali terburu-buru mendoakan keburukan anakmu ketika kamu sedang marah…!!!

Berlindunglah kepada Allah dari godaan iblis. Jika kamu ingin memukulnya, pukul sajalah, tapi jangan kamu mendoakannya dengan yang bukan-bukan sehingga kamu akan menyesal sepertiku…!!!!

Sungguh aku menulis ini dengan airmataku yang turut mengalir.

Wahai anakku..! Aku rela rohku turut bersamamu..! Hingga aku boleh beristirahat dari kepedihan yang aku rasakan setelah kepergianmu…

Ya Allah, ampunilah dosaku, dosa ibu bapa ku, keluarga ku,saudaraku dan setiap orang yang meng-klik Suka, share dan berkomentar “aamiin” dan jangan Engkau cabut nyawa kami saat tubuh kami tak pantas berada di SurgaMu. Aamiin…
.
Sumber: FB Hermantony Barantas,( Kisah Nyata)

1 KOMENTAR

  1. Pretty component to content. I simply stumbled upon your weblog and in accession capital to say that I acquire in fact enjoyed account your blog posts. Anyway I will be subscribing for your augment or even I success you access consistently fast.|

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here