Laporan : Mulyadi T Bua/rls

Luwuk50detik.com-Dua pasangan calon Sulianti Murad dan Zainal Abidin Alihamu bersama Amirudin dan Furqanudin Masulili menyoal kebijakakan kepemimpinan Herwin Yatim dan Mustar Labolo, yang hingga akhir masa jabatannya tidak dapat memperbaiki infrastruktur jalan lingkar di wilayah kepala burung, yakni wilayah Kecamatan Bualemo dan Balantak Utara.

Kritik pedas tersebut dilontarkan Sulianti Murad Calon Bupati Nomor Urut Satu dan Amirudin Calon Bupati Nomor Urut Dua, dalam debat terbuka pasangan calon putaran ke tiga, yang dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Banggai di Swisbel Luwuk, Minggu (29/11/2020).

Sulianti menyoal kemampuan pemerintahan Winstar dalam memperbaiki jalan yang ada di Kabupaten Banggai. Sulianti bahkan membandingkan panjang jalan yang dibangun pemerintahan Winstar yang hanya 460 kilometer, sementara pada kepemimpinan sebelumnya mampu membangun jalan sepanjang 785 kilometer.

Beitu juga dengan calon Bupati Amirudin Tamoreka, yang juga menyoal keberadaan jalan kepala burung khususnya yang berada di Bualemo, yang sejauh ini tidak mendapatkan perhatian. Seharusnya kata dia, meskipun jalan tersebut menjadi kewenangan pemerintah provinsi, namun proses perencanaan tetap harus dilakukan pengawalan melalui tahapan Musrembang di semua tingkatan, khususnya Musrembang di tingkat provinsi.

Sementara itu, kubu Winstar melalui calon wakil Bupati Mustar Labolo, mnjelaskan bahwa apa yang sudah dilakukan dalam masa kepemimpinan Winstar adalah yang terbaik. Hal itu dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang diberikan atas penilaian pemerintah provinsi, nasional bahkan internasional.

Mustar menepis penilaian miring yang dilontarkan Sulianti dan Amirudin, karena sejatinya kata Mustar yang melakukan penilaian adalah pemerintah pusat, bukan sesama Paslon yang saling menilai kinerja.

Mustar mengatakan, berdasarkan penilaian maka pemerintahan Winstar adalah yang terbaik sebagaimana penghargaan yang telah diberikan kepada daerah ini.

“Pertumbuhan ekonomi kita baik. kesehatan, pendidikan. Yang menilai bukan mantailobo atau jalangkung yang menilai ini tapi pusat. Pertumbuhan ekonomi kita dari 6,5 naik 7,5 persen diluar Migas, itu penilaian dari BPS. Kemiskinan kita dari 9,12 persen turun menjadi 7,8 persen, dan itu diakui. Gini rasio kita dari 0,34 sekarnag sudah 0,19, begitu juga dengan stunting, 35 persen nasional sedangkan kita 19 persen,” pungkasya. (*)