Gereja sepi tanpa jemaat karna menghindari kontak langsung warga masyarakat guna antisipasi dan memperkecil penyebaran virus korona. Foto : Ferdinand. Puahadi
Gereja sepi tanpa jemaat karna menghindari kontak langsung warga masyarakat guna antisipasi dan memperkecil penyebaran virus korona. Foto : Ferdinand. Puahadi

Laporan : Ferdinand Puahadi

Poso, 50detik.com– Pendeta Soteria Metungku. S. Th. Tidak mampu lagi menahan air matanya saat mendoakan ribuan masyarakat Indonesia saat ini sedang dalam perawatan medias akibat terpapar virus korona. Diantara mereka bahkan sudah diangka ratusan yang meninggal dunia akibat virus ini.

Ini terjadi pada ibadah Minggu pagi, (12/4/2020). Dimana ketika itu hamba Tuhan ini, sedang melakukan pemberitaan Firman (khotbah) dari mimbar gereja dimana di dalamnya biasanya seluruh kursi dipenuhi ratusan jemaat. Dan kali ini semua tempat duduk itu tampak kosong karena seluruh warga gereja terpaksa di rumahkan dan hanya mendengar pemberitaan Firman Allah lewat corong pembesar suara di rumah masing – masing.

Hal tersebut di berlakukan sebagai kebijakan gereja untuk menghindari kontak langsung jemaat, sebagai tindakan antisipasi untuk memperkecil penyebaran virus covid 19.

Pendeta Soteria Metungku. S.Th tetap melakukan khotbah dari Gereja dan hanya di temani pemandu musik dan majelis pembantu. Ibadah Minggu, ( 12/4/2020). Foto : Ferdinand Puahadi

Sebelumnya, pada ibadah Jumat Agung (10/4). Dimana ibadah tersebut merupakan rangkaian dari memperingati penderitaan sampai pada kematian Yesus Kristus di kayu salib.

Ritual ini pada beberapa negara sering di tempuh dengan prosesi jalan salib bertujuan untuk mengingatkan kepada umatnya tentang bagaimana sesungguhnya penderitaan Kristus ketika itu, sebagai akibat dari dosa yang di lakukan manuisa.

Dalam keyakinan Iman Kristen, Penyaliban Kristus merupakan puncak penyelamatan yang di lakukan oleh Allah terhadap umat yang percaya kepada – NYA. Dan sebelum Yesus menjalani prosesi pederitaan itu, Ia terlebih dahulu telah mengumpulkan murid muridnya, kemudian memberikan pelayanan melalui tanganya sendiri, dengan membagi bagikan roti dan anggur yang mana roti merupakan lambang dari tubuh dan anggur sebagai simbol dari darah suci-NYA sendiri yang tertumpah guna membersihkan dunia yang kotor dengan dosa.

Keluarga Ribka Kawuwung tetap khusuk mengikuti ibadah pagi, Minggu. ( 12/4/2020) walaupun hanya mendengar ulasan Firman Allah lewat pembesar suara dari gereja. Foto : Ferdinand Puahadi

Pengorbanan itu adalah jalan Tuhan sehingga manusia masih mempunyai kesempatan menginjakan kaki pada kerajaan Allah kelak. Dan Dari sinilah awal terjadinya Paskah yang di kenal umat beragama Nasrani sampai hari ini.

Sebenarnya ibadah sakral tersebut semestinya di lakukan oleh jemaat di setiap gereja. Tetapi akibat penyebaran virus korona, akhirnya seluruh jemaat terpaksa di rumahkan sementara dan hanya melakukan kegiatan perjamuan di kediaman masing – masing keluarga.

Secara tata gereja, perayaan dengan sistim demikian, baru terjadi pertama kalinya di Gereja Kristen Sulawesi Tengah ( GKST) dimana jemaat yang mengikuti perjamuan kudus tidak lagi di lakukan di rumah ibadah ( gereja).

Tetapi hanya mendapat bimbingan dari hamba Tuhan ( pendeta) lewat pembesar suara ( mikrofon) yang sudah terpasang pada menara gereja.

Uniknya, walaupun berlangsung demikian, ternyata tidak sedikit jemaat turut meneteskan air mata karena di landa sedih dan haru.

“Saya memang cuma dengar petunjuk pendeta terkait prosesi makan dan minum roti paskah itu dari corong pembesar suara gereja. Tapi jujur saya sempat menangis memohon pengampuan dari Tuhan kemudian berharap kita cepat lepas dari bencana korona sedang melanda masyarakat kita saat ini.” ujar Ribka kawuwung mengungkap perasaan.

Pada ibadah. Minggu ( 12/4). Beban sebagai hamba Tuhan, akhirnya tidak mampu membendung perasaan Pendeta Soteria Metungku. S.Th untuk meluapkan air matanya saat berbicara di mimbar gereja.

Dalam doa safa’at pendeta itu dengan suara bergetar bahkan beberapa kali terhenti ucapanya karena berharap dalam doanya kiranya Tuhan bisa mengampuni manusia dan melepaskan mereka dari ancaman serta teror virus korona yang telah merenggut ratusan ribu nyawa manusia di dunia itu.

“Sebagai hamba Tuhan kami terus mendoakan agar semua yang terpapar virus ini dapat terobati melalui pengobatan medis mereka terima. Kami juga mendoakan agar para tenaga kesehatan di setiap rumah sakit Tuhan dapat menolong mereka. Kami juga mendoakan agar pemerintah dan aparat keamanan tetap di berikan kesehatan dan kekuatan dan di beri khikmat Oleh Tuhan agar mendapat solusi terbaik demi menyelamatkan warganya di masing – masing negara. Kalau Tuhan yang bekerja maka apapun bisa selesai. Amin,” tutur Pendeta Soteria menyampaikan harapan imannya.

Diketahui bahwa Sejumlah negara di dunia telah porak poranda tatanan kehidupanya, baik secara sosial apalagi ekonomi. Hal serupa telah di rasakan pula masyarakat Indonesia,

Dimana data terakhir jumlah yang terpapar virus ini telah mencapai lebih tiga ribu orang, dan yang meninggal sudah pada angka ratusan orang.

Di Sulawesi Tengah sendiri tercatat 30 orang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan Lima orang di nyatakan positif, sementara dua orang di antaranya meninggal dunia.