Ketua KONI Kabupaten Buol H.Abdulah Batalipu

Laporan Suleman Dj. Latantu

BUOL,50DETIK.COM. Ketua KONI Kabupaten Buol H.Abdulah Batalipu, menyatakan menerima Keputusan PSSI Sulteng tentang pengenaan sanksi terhadap Tim Persbul Buol.  “Kita tetap menerima dan menghargai Keputusan tersebut, dan kita harus loyal karena peraturanya memang seperi itu. Dan hasil Verifikasi panitia itu memang sudah benar ada pelanggaran. Yang saya sesalkan pelatihnya, kenapa dia sudah tau pemain tersebut tidak memenuhi persyaratan justru dipaksakan melakukan latihan. ” ujar H. Abdulah Batalipu yang notabene juga selaku Wakil Bupati Buol.

Mudahan mudahan dengan kejadian tersebut, lanjutnya bisa menjadi pelajaran berharga bagi tim Persbul Buol dikemudian hari. Dan ia berharap, terkait pengenaan sanksi pihak panitia PSSI Sulteng harus lebih bijaksana, jangan hanya Persbul Buol yang diperlakukan seperti itu. Ia berharap, panitia Juga harus lebih selektif melakukan verifikasi terhadap tim sepak bola lainnya, seperti halnya tim Persipal Palu. Karena ia mencermati pihak panitia diduga tidak melakukan seleksi dengan baik terhadap tim Persipal Palu.

“Dan saya masih membiarkan pertandingan kompetisi yang masih berlangsung saat ini. Dan setelah selesai, saya akan meminta agar panitia menggelar rapat. Dalam rapat nanti saya akan pertanyakan soal keberadaan tim Persipal Palu dan tim Palu Putra, apakah sudah benar atau tidak kelengkapan dokumen admintrasinya seperti ijazah dan usianya. Masalah ini jelas saya akan pertanyakan secara terbuka dalam rapat nanti. Dan selanjutnya, saya meminta Komisi Disiplin PSSI Pusat untuk melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen Tim Persipal dan Palu Putra, termasuk  tim sepak bola lainnya. Terutama soal Ijazah dan Usianya mereka apakah memenuhi persyaratan atau tidak” papar Abdullah kepada media ini.

Seperti dilansir sebelumnya, terkait kegiatan sepak bola Liga 3 yang saat ini masih sedang berlangsung, panitia disiplin PSSI Sulteng secara resmi telah mengeluarkan Surat Keputusan tentang pengenaan sanksi terhadap tim Persbul Buol yang terbukti melakukan pelanggaran. Dimana berdasarkan hasil verifikasi panitia disiplin PSSI Sulteng salah seorang pemain tim Persbul Buol atas nama Zulkifli  nomor punggung 10 terbukti melakukan pemalsuan data dokumen Ijazah dan KTP. Setelah dilakukan pengecekan dan verifikasi ahli dari Dinas Dikjar Propinsi Sulteng dan Dukcapil Kota Palu, Ijazah dan KTP yang dimasukkan sebelumnya kepada panitia ternyata atas nama orang lain Zulkifli Amrin.

Dan hal itu diketahui setelah Tim Persbul Buol sudah masuk pada peringkat 4 besar pada kompetisi Liga 3. Akibat kejadian itu, Tim Persbul Buol, akhirnya di kenakan sanksi disiplin  diskualifikasi dengan hukuman selama 3 tahun Tim Persbul Buol  tidak bisa masuk pada kompetisi persepak bolaan.

Sementara terkait  pengenaan sanksi terhadap Tim Persbul Buol, umumnya masyarakat Kabupaten Buol merasa kecewa. Karena pengenaan sanksi tersebut dilatar belakangi adanya pemalsuan dokumen data diri salah seorang pemain yang prakteknya sangat memalukan “Ini pukulan berat terhadap masyarakat buol pada umumnya. Sehingga dengan kejadian, maka ke depan perlu ada proses pergantian kepengurusan PSSI Kabupaten Buol. Ini tidak boleh dibiarkan, karena kepengurusan saat ini sudah terbukti melakukan kesalahan fatal dan sangat memalukan,” ujar salah seorang sumber media ini.

Berdasarkan data, pada masa kepengurusan Amran A. Batalipu tahun 2007 Persbul Buol posisinya masih pada Devisi 3, dan tahun 2008 masuk Devisi 2, dan  tahun 2009 naik berada di Devisi 1. Selanjutnya, tahun 2010 masuk Devisi Utama. Dan tahun 2011 masuk Liga Seper, tahun 2012 masuk Liga 1.

Setelah tahun 2013 kembali posisinya turun ke Devisi Utama dan kemudian 2014 turun lagi jadi Devisi 1,2, dan tahun 2019 – 2021 jadi Liga 3, dan terakhir dikenakan sanksi diskualikasi karena melakukan pelanggaran.

Sumber lain menyebutkan, keberadaan Persbul Buol pada masa kepengurusan Amran Batalipu sangat diperhitungkan dan sangat disegani karena prestasinya. Dan keberadaanya sangat disegani di Pulau Sulawesi bahkan di Indonesia Timur. Dan waktu itu hanya 2 club di liga super yang disegani yakni Persbul Buol dan PSM Makasar.