Palu, 50detik.com-Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Irwan Lahace, menyambut baik program PATUJUA yang diinisiasi oleh BKKBN dan sejumlah OPD, Instansi dan Lembaga terkait.

Dalam kunjungannya ke kantor Disdikbud Sulteng, Kepala Perwakilan (Kaper) BKKBN Sulteng, Maria Ernawati, menyampaikan integrasi program Patujua yang tujuannya menurunkan angka pernikahan anak. Mengingat Sulteng saat ini menempati urutan kelima nasional untuk angka pernikahan anak.

“Kedatangan kami disini, menyampaikan beberapa isu yang menjadi PR kami dalam program Bangga Kencana. Salah satunya angka usia perkawinan pertama dibawah usia 20 tahun yang dinilai cukup tinggi di Sulawesi Tengah, ” ungkap Maria Ernawati.
Diketahui, angka perkawinan dibawah usia 20 tahun mencapai 58 persen. Melihat hal itu, BKKBN dengan Dinas P2KB Provinsi Sulteng selaku OPD teknis, bersinergi untuk menurunkan angka pernikahan dibawah usia 20 tahun dengan mengembangkan satu program yang disebut PATUJUA, diambil dari bahasa Kaili yang artinya Satu Tujuan. Nama program Patujua ini diapresiasi oleh Gubernur Sulteng.

Melalui program Patujua ini, kata Maria Ernawati, diharapkan semua pihak atau OPD terkait bisa saling bersinergi untuk mencapai satu tujuan yakni menurunkan prevalensi angka pernikahan dibawah usia 20 tahun.

Walaupun diketahui bahwa beberapa dinas terkait sudah memiliki program yang sama, namun belum sinkron dengan yang lainnya. Dan pada kesempatan ini, kata Erna, pihaknya membawa draft surat peraturan yang berisi pengelolaan Patujua sehingga nanti menjado satu sistem di pemerintahan yang dikelola secara bersama.

Dalam kaitannya dengan Dinas Pendidikan, Pihaknya akan mengintegrasikan program Patujua melalui Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) kedalam ekstrakurikuler di tingkat SMA. Mengingat angka pernikahan dibawah usia didominasi okeh pelajar dijenjang SMA.

“Melalui jenjang pendidikan, kami mencoba mengembangkan satu konsep yaitu memasukkan program PUP (Pendewasaan Usia Perkawinan) sebagai kegiatan ekstrakurikuler di SMA yang dimulai dari kelas 1. Jadi saat itu, pola pikir siswa langsung terkonsep untuk tidak segera menikah,” harapnya.

Sementara itu, Kadis Dikbud Sulteng Irwan Lahace mengapresiasi dan mendukung gagasan program Patujua yang diharapkan dapat menekan angka pernikahan anak dibawah usia atau menikah dini.

” Kami sangat mengapresiasi dan mendukung agar program Patujua ini bisa menjadi bagian dari kegiatan ekstrakurikuler di jenjang SMA dan SMK. Dan nanti tinggal diatur teknisnya saja, untuk disosialisasikan kepada kepala sekolah tentang kehadiran program Patujua menjadi bagian dari kegiatan ekskul siswa SMA dan SMK,” kata Irwan Lahace.

SUMBER: HUMAS BKKBN SULTENG