Donggala,50detik.com– Kerusuhan terjadi di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat (6/2). Insiden ini diduga dipicu oleh aksi sekelompok massa yang dipimpin Kepala Desa Bulu Parigi, Sulawesi Barat, bernama Sukma, yang memasuki areal tanam perusahaan dan melakukan pemanenan buah sawit tanpa izin.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Sukma diduga menggerakkan sekitar 100 orang untuk masuk ke dalam kawasan perkebunan. Aksi tersebut kemudian berujung ricuh setelah petugas keamanan perusahaan berupaya menghentikan kegiatan yang dinilai sebagai pencurian buah sawit.
Sekitar pukul 11.30 Wita, bentrokan terjadi antara massa aliansi dan tim pengamanan perusahaan. Bentrokan diawali dengan aksi massa aliansi yang diduga melempari tim pengamanan menggunakan batu-batu berukuran besar, sehingga memaksa petugas keamanan bertahan dan berupaya menyelamatkan diri.
Situasi semakin memanas ketika massa aliansi diduga menggunakan senjata tajam dalam penyerangan terhadap tim pengamanan perusahaan. Akibat dari aksi tersebut, tiga orang petugas keamanan mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis.
Salah seorang warga yang menyaksikan langsung kejadian tersebut mengungkapkan bahwa aliansi yang melakukan penyerangan datang secara berkelompok dan menunjukkan sikap agresif sejak awal.
“Mereka datang ramai-ramai, langsung masuk ke kebun dan memanen. Waktu ditegur security, suasana langsung panas. Ada yang lempar batu, ada juga yang bawa senjata tajam,” ujar warga tersebut yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Ia menambahkan, situasi di lokasi kejadian sempat mencekam dan membuat warga sekitar takut untuk mendekat. “Kami warga tidak berani mendekat karena takut terkena imbas. Kejadiannya cepat tapi brutal,” katanya.
Sementara itu, istri salah satu korban menyampaikan kesedihannya atas peristiwa tersebut. Ia menilai aksi yang dilakukan kelompok massa sangat brutal dan tidak berperikemanusiaan.
“Suami saya menjadi korban dari kebrutalan kelompok ini. Suami saya hanya datang bekerja dan ada keluarga yang menunggu di rumah,” ujarnya.
Ia berharap aparat penegak hukum dapat menindak tegas para pelaku agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Menurutnya, segala bentuk kekerasan tidak dapat dibenarkan, terlebih terhadap pekerja yang sedang menjalankan tugas. (*)





