Catatan : Mulyadi T Bua

Luwuk50detok.com-Baru saja selesai adzan Isya berkumandang, nampak sekompleks warga wanita, pria dengan usia beragam berseliweran di jalan Kelurahan Mendono Kecamatan Kintom yang tak mulus itu. Mereka bergegas menuju salah satu rumah warga, mungkin disitulah tempat titik mereka berkumpul.

Penampilan warga malam itu tak seperti layaknya orang pergi ke kondangan hajatan atau pesta nikahan. Pakaian yang mereka kenakan seragam, berwarna biru tua dengan logo atau gambar yang sama pula. Saya yang sedari tadi berdiri mengambil tempat yang minim pencahayaan dan agak jauh dari titik kumpul warga, paham betul kemana dan untuk apa mereka datang ketempat itu.

Tak butuh waktu lama, deretan kursi plastik sewaan itupun terisi, bahkan ada sebagian warga yang rela berdiri karena tak kebagian kursi.

Tenda terpal berwarna coklat tua yang mengambil sebagian bahu jalan itupun sesak dengan warga. Sejurus kemudian, nampak seorang pria tambun berdiri dengan microfon, mengucap salam yang kemudian dibalas serentak oleh warga yang hadir ketika itu. Master Ceremoni (MC) mulai memperkenalkan satu persatu nama-nama yang duduk di sofa yang sengaja ditata di beranda rumah warga tersebut.

Sontak riuh ketika pembawa acara menyebut nama Amirudin Tamoreka calon bupati ada ditengah-tengah mereka.

Usai itu, Amirudin Tamoreka atau biasa dia disapa dengan Haji Amir di persilahkan untuk menyampaikan isi hatinya dihadapan ratusan warga yang tumplek malam itu.

Pria kelahiran 13 Desember 1971 itu, mengawali dengan lafadz basmallah kemudian dilanjut dengan ucapan “Asalamualikum Warahmatulahi Wabarakatuh”…warga pun membalasnya.

Kemudian pria berkumis tipis alumni SMA Negeri 1 Luwuk tersebut berujar kehadiran dirinya di tengah-tengah masyarakat tak lain adalah untuk ‘mempersunting’ warga menjadi bagian dari kepemimpinannya kelak.

Tak seperti biasanya malam itu, Haji Amir dalam penyampaiannya tidak terlalu menekankan program atau visi-misi nya. Kesannya yang santai saat itu, hanya sebatas memeberikan semacam motivasi kepada warga yang hadir.

Namun dari hampir 30 menit dia berpidato, ada beberapa penggalan kalimat yang membuat ruang simpatik warga memuncak.

Sebenarnya kalimat itu bagi saya sangat sederhana, namun maknanya begitu dalam mendorong saya untuk lebih konsen agar tidak melewatkan dalam catatan saya.

Begini petikan kalimatnya, kalau tidak bisa memimpin masyarakatnya dengan bijak dan baik. Maka, dasar sebagai pemimpin itu sendiri menjadi hilang. Suara yang harus didengar bagi seluruh kepala daerah, adalah suara rakyat, suara milik mereka yang dulu secara sukarela memberikan hak pilihnya dengan rasa menitik beratkan dari keyakinan.

“Terlepas dari itu, saya juga ingin menekankan mengenai moralitas, sebab moral adalah esensi paling penting dari seorang pemimpin. Leader birokrasi harus menjunjung tinggi moralitas dan transparansi. Saya yakin, pemimpin yang memiliki moralitas tinggi akan menganggap jabatan yang ia pangku sebagai amanah dan tanggung jawab,” seperti itulah ungkapannya.

Kalimat ini memang sering kita didengar dari siapa saja. Tapi kali ini ungkapan yang lahir dari sosok calon pemimpin Banggai yang satu ini, benar-benar menggambarkan ungkapan nurani seorang pemimpin sejati. Pemimpin seperti ini pasti sanggup membaca setiap desahan nafas warga yang butuh sentuhan kebijakan.

Saya yang sedari tadi asyik dengan hand phone, mencatat setiap bait kalimat yang disampaikan calon bupati itu, tak sadar jika pria bersahaja segera mengakhiri penyampaiannya.

“Dari beranda rumah ini saya mengawali langkah saya, Insya Allah menuju “istana”Halimun dan akan kembali lagi kesini sebagai bupati terpilih,” ujarnya penuh keyakinan.

Rangkaian acara kampanye terbatas Amiruddin Tamoreka (AT)-Furqanuddin Masulili (FM) di kelurahan Mendono diakhiri dengan foto bersama. Usai foto dan salaman wargapun meninggalkan tempat itu membawa selaksa harapan calon pemimpin baru.***