BMKG mengatakan gelombang tinggi kemungkinan terjadi akibat longsor bawah tanah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: Dok. BNPB)

Laporan: Wartawan CNN Indonesia

Jakarta, 50detik.com — Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menganggap peristiwa tsunami yang menerjang Selat Sunda pada Sabtu (22/12) malam sebagai fenomena langka lantaran gelombang tinggi tidak terjadi karena gempa bumi.

Meski hingga kini penyebab jelas tsunami belum bisa dipastikan, Dwikorita mengatakan gelombang tinggi kemungkinan terjadi akibat longsor bawah tanah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Di saat yang akibat pengaruh bulan purnama sehingga ada kombinasi antara fenomena alam tsunami dan gelombang pasang.

“Persoalannya adalah data yang bisa memastikan apakah tsunami ini terjadi akibat eruspi Gunung Anak Krakatau belum lengkap. Apakah tremor dari eruspi gunung benar-benar menimbulkan longsor lereng masuk ke laut dan timbulkan tsunami. Itu yang belum jelas,” ucap Dwikorita kepada CNN Indonesia TV via telepon pada Minggu (23/12).

Dwikorita memaparkan BMKG telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi gelombang tinggi di wilayah Selat Sunda sejak 21 Desember lalu. Dia menuturkan gelombang tinggi diprediksi terjadi hingga 22-25 Desember mendatang.

Di hari yang sama, sekitar pukul 13.51 WIB, BKMG juga mencatat erupsi Gunung Anak Krakatau dengan status level wasapada. Dia mencatat gunung tersebut terakhir kali bererupsi pada Juli lalu.

Dwikorita menuturkan pada Sabtu malam sekitar pukul 21.03 WIB, BMKG mencatat gunung tersebut bererupsi kembali.

Dia mengatakan erupsi tersebut sempat membuat peralatan seismometer badan geologi setempat rusak. Beruntung, seismic Stasiun Sertung berhasil merekam getaran tremor yang terjadi secara terus-menerus meski tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigakan.

“Berdasarkan rekaman seismik dan laporan masyarakat, peristiwa ini tidak disebabkan aktivitas gempa bumi tektonik, namun sensor Cigeulis (CGJI) mencatat adanya aktivitas seismic dengan durasi kurang lebih 24 detik dengan frekuensi 8-16 Hz pada pukul 21.03 WIB,” ucap Dwikorita.

Tak lama, Dwikorita mengatakan BMKG mendeteksi gelombang tinggi timbul 24 menit setelah erupsi terjadi. Alat BMKG di sekitar pantai juga menunjukkan kenaikan gelombang tinggi yang cukup signifikan di beberapa wilayah pantai Banten, Serang, dan Lampung.

Dwikorita menuturkan hasil pengamatan tidegauge (sementara) di Pantai Jambu, Serang menunjukan gelombang tinggi mencapai 0,9 meter pada pukul 21.27 WIB. Gelombang setinggi 0,32 meter juga tercatat di Pelabuhan Ciwadan, Banten sekitar pukul 21.33 WIB.

Sementara itu, Dwikorita memaparkan gelombang tinggi mencapai 0,28 meter juga tercatat dari hasil tidegauge di Pelabuhan Panjang, Lampung, sekitar pukul 21.53 WIB.

“Tipikal gelombang tinggi tersebut memang gelombang tsunami maka kami segera memperingatkan masyarakat dan pemerintah daerah setempat untuk menjauh dari pantai dan jangan kembali untuk sementara waktu karena khawatir gelombang tinggi masih terjadi,” paparnya.

Hingga kini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 43 orang tewas dan 584 lainnya luka-luka akibat tsunami Selat Sunda kemarin.
Lembaga tersebut menuturkan belasan orang masih hilang dan kemungkinan korban tewas masih akan bertambah.

Berbeda dengan tsunami pada umumnya, Dwikorta menuturkan BMKG tak bisa mengeluarkan peringatan dini karena tsunami kemarin tidak dipicu gempa bumi. (rds/asa)

Sumber: CNN Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here