PPalu,50detik.om–– Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menyelenggarakan Seminar 100 Profesor Bicara Stunting sebagai salah satu upaya percepatan penurunan stunting di Sulawesi Tengah.
Kegiatan ini diawali dengan beberapa sambutan. Sambutan pertama oleh DR. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) selaku Kepala BKKBN RI, kemudian seterusnya Prof. Drh Rizal Damanik, MRepSc, PhD, selaku Deputi Latbang BKKBN RI, Prof. Dr. Ir. H. Ari Purbayanto, M. Sc, selaku Ketua Umum Asosiasi Profesor Indonesia, dan sambutan terakhir oleh Kepala Perwakilan (Kaper) BKKBN Sulteng Dra. Maria Ernawati, M.M, sekaligus membuka kegiatan secara resmi.


Ernawati menjelaskan bahwa harapan dari adanya kegiatan seminar ini adalah bisa menjadikan suatu kajian atau telaah kritis terhadap penanganan stunting di Indonesia serta terobosan yang efektif dalam menentukan aksi yang cepat dalam penanganan stunting di level pusat dan daerah. “Saya berharap bahwa di Sulteng ini bisa menemukan satu solusi dan formulasi yang tepat untuk mengejar ketertinggalan dari tingginya angka stunting di Sulawesi Tengah” jelasnya.

Pemaparan materi Seminar 100 Profesor Bicara Stunting yang dilaksanakan secara virtual ini diawali oleh Prof. Dr. Nurdin Rahman, M.Si., M.Kes, yang membawakan materi Potensi Pangan Lokal Dalam Pencegahan Stunting, menjelaskan bahwa pentingnya gizi 1000 HPK yang merupakan peluang emas dalam mengoptimalkan asupan gizi mulai dari calon pengantin, Ibu hamil, menyusui, dan baduta untuk pencegahan stunting. Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako ini juga memaparkan tentang bagaimana keunggulan produk pangan lokal dan pola konsumsi hidup sehat dengan memanfaatkan potensi sumber keanekaragaman hayati.

Materi kedua berjudul Daya Beli dan Minim Akses Sebagai Pereduksi Siklus Keberdayaan Keluarga, yang dibawakan oleh Prof. Dr. Ir. Muhammad Basir Cyo, SE., MS. Mantan Rektor Universitas Tadulako ini menekankan pentingnya intervensi dalam bentuk aksi, “persoalan yang tadi itu, seperti 1000 HPK, kalau tidak diintervensi, hanya didiskusikan, akan tetap seperti begitu saja dan jangan berharap ada pencegahan” jelasnya.

Pemaparan terakhir disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D, dengan topik Mengomunikasikan Pencegahan Stunting: Konsepsi dan Strategi. Dalam pemaparannya, Deddy menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang kurang paham arti kata stunting. “Oleh karena itu penting untuk melakukan penyuluhan dalam bahasa daerah dan menggunakan istilah-istilah pengganti yang mudah dipahami oleh masyarakat“ ujarnya. Deddy juga menyebutkan beberapa tips untuk menjadi penyuluh pencegahan stunting yang efektif, seperti mengenali kepercayaan dan nilai-nilai budaya masyarakat yang unik tentang stunting, menggunakan bahasa lokal, dan melakukan komunikasi langsung.

sumber: humas bkkbn sulteng